Study on Sustainable Harvest Level of Tengkawang Seed
Overview
Kalimantan is natural habitat for some species of Tengka-wang. Tengkawang is traditionally utilized by the local people in 3 provinces: West Kalimantan, Central Kalimantan and East Kaliman-tan. Comercially, Tengkawang management in West Kalimantan is better than other provinces in Kalimantan. It is closely related to the availability of Tengkawang markets. In East Kalimantan, especially in upper Mahakam River (Matalibaq, Muyub, and Long Bagun), there were Tengkawang management when markets were available in Samarinda in 1950–1960’s.
Local people of West Kalimantan have been cultivating Tengkawang in Tembawang and Gupung areas since long time ago. Not only to get benefit from the seed, but to get timber for their own needs. Almost all of the regencies along the upper river in West Kalimantan have Tengkawang potential. Until 1990’s, Sintang and Sang-gau Regencies were the major producer of commercial Tengkawang seed. However, this time the biggest Tengkawang potencial is in the upper river of Kapuas Hulu Regency (Putussibau) and Ketapang. The commercial management of Tengkawang in Sintang, Sanggau and Sekadau Regencies (broadened regency of Sanggau in 2002’s) still exist untill now.
The Candidate of Research Locations There are 2 candidate locations for this activity :
1. Sungai Buaya village, Kayan Hilir District, Sintang Regency, West Kalimantan.
2. Entakai village, Kapuas District, Sanggau Regency, West Kaliman-tan. The selection of this location is based on these considerations :
Supporting Information (Dialogue)
1. Mr. Marsah, former head of Sungai Buaya village, Kayan Hilir District, Sintang Regency (Tengkawang entrepreneur)
2. Mr. Lorensius, officer of Entakai village, Kapuas District, Sanggau Regency, West Kalimantan.
3. Other supporting information about the drift of Tengkawang harvest season was also obtained from Rahmawati, S.Hut (staff of Community Forest and HCV Assistant of Flora Fauna Interna-tional/FFI in Ketapang) and Mr. Marong (Putussibau). They informed that in Ketapang and Putussibau Regencies from Tana Titi District, Serengkah, Beringin, Tanjung Beulang to Sangkai, Tengka-wang has started to produce fruit since December and in February to March will begin to fall in optimal ripeness.
a. Dr. Sutedjo, ecologists and conservation of biodiversity expert,Center of Tropical Forest Rehabilitation, Mulawarman University
b. Dr. Candradewana Boer, biodiversity conservation expert, Forestry Faculty, Mulawarman University
c. Dr. Fadjar Pambudhi, forest biometric expert, Forestry Faculty, Mulawarman University


Dialogue with Tanjung Pura University student, Pontianak
Studi Tingkat Pemanenan Biji Tengkawang yang Berkelanjutan
Gambaran Umum
Kalimantan merupakan habitat alami yang cocok bagi beberapa jenis Tengkawang. Tengkawang dimanfaatkan secara tra-disional oleh masyarakat lokal di 3 propinsi yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Secara komersial, Teng-kawang di Kalimantan Barat dikelola lebih baik daripada propinsi lain di wilayah Kalimantan. Hal ini erat kaitannya dengan pasar yang hingga kini masih tersedia. Sementara itu di Kalimantan Timur khususnya hulu Mahakam (Matalibaq, Muyub, dan Long Bagun) per-nah dilakukan pengelolaan dan terdapat pasar di Samarinda pada tahun 1950–1960-an.
Masyarakat lokal di Kalimantan Barat telah membudidaya-kan Tengkawang pada kawasan Tembawang dan Gupung sejak lama. Selain untuk mendapatkan manfaat dari bijinya, kayunya juga dimanfaatkan sebagai cadangan kayu masyarakat. Hampir semua ka-bupaten di hulu sungai di Kalimantan Barat memiliki potensi Tengkawang. Sampai dengan tahun 1990-an, Kabupaten Sintang & Sanggau masih menjadi penghasil utama biji Tengkawang yang diperda-gangkan. Sedangkan untuk saat ini potensi terbesar Tengkawang ada di wilayah hulu sungai Kabupaten Kapuas Hulu (Putussibau) dan Ketapang. Namun pengelolaan secara komersil di Kabupaten Sintang, Sanggau dan Sekadau (kabupaten pemekaran dari Sanggau sekitar pada tahun 2002) masih tetap ada sampai sekarang.
Kandidat Lokasi penelitian
Terdapat 2 calon lokasi untuk kegiatan ini:
1. Desa Sungai Buaya, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.
2. Desa Entakai, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.
Informasi Pendukung (Dialog)
1. Bapak Marsah, mantan Kepala Desa Sungai Buaya, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang (pengusaha Tengkawang)
2. Bapak Lorensius, aparat Desa Entakai, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.
3. Informasi lain yang mendukung tentang bergesernya musim buah Tengkawang, juga diperolah dari Rahmawati, S.Hut (Staff Community Forest & HCV Assistant of Flora Fauna International/FFI di Ketapang) dan Mr. Marong (Putussibau) yang memberikan informasi bahwa di Kabupaten Ketapang dan Putussibau mulai dari Kecamatan Tana Titi, Serengkah, Beringin, Tanjung Beulang hingga Sandai, Tengkawang sudah mulai berbuah sejak bulan Desember dan pada bulan Februari–Maret diperkirakan buah akan berjatuhan (buah maksimal)
4. Informasi pendukung dari para ahli
a. Dr. Sutedjo, ahli ekologi dan konservasi keanekaragaman hayati, Pusrehut, Universitas Mulawarman
b. Dr. Candradewana Boer, ahli konservasi keanekaragaman hayati, Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman
c. Dr. Fadjar Pambudhi, ahli biometrika hutan, Fahutan Unmul
Survey of Tengkawang Seed Resource Potential
Malinau, East Kalimantan
Forest area in Setulang village, called Tane’ Olen, is a natural forest area which its existence is intentionally maintained by local people as conservation area for the prosperity of the community, now and for the next generation. This forest area is kept by Dayak Kenyah tribe people, the origin people of Malinau. 5.300 Ha forest area has been declared as conservation area based on the agreement between local community with local government of Malinau.
Tane’ Olen is very fertile area, characterized by many small rivers that flow along the area to Setulang river. This kind of area is the most appropriate area for Tengkawang to grow. It is indicated by the presence of five Tengkawang species which three species of them were the famous Tengkawang and gave contribution to the local people income. The three species of Tengkawang are Big Fruited Tengkawang (Shorea macrophylla), Bird Tengkawang (Shorea beccariana) and Common Tengkawang (Shorea pinanga). The unavalability of sustainable market for Tengkawang has caused the interuption of Tengkawang trade system that only last around 1970–1980’s.
Based on the survey conducted on November 2011, there was a drift of Tengkawang fruiting season. Former prediction showed that the optimum fruiting season would be around November to December 2011, but weather anomaly in those months caused Tengkawang has just started to bloom recently. Therefore, the optimum fruiting season is predicted to be on Feb-ruary to March 2012. The same condition happens in West and Central Kalimantan. Further, mother trees condition influences the quantity and quality of produced fruit. Thus, it will need some standards of determination of Tengkawang mother trees. In this study, determination of Tengkawang mother tree as seed re-source has been based on the approved technical manual. The minimum distance between mother trees should be 50 meters, while phenotype quality is not a priority. This relates to the pur-pose of the determination of mother trees for genetic diversity conservation, it is not breeding population that usually need su-perior phenotype. Nevertheless, good shaped and healthy tree with good potential of bearing enough fruit are given high priority to achieve the intended purpose.
From the exploration, it has been found that there are three dominant Tengkawang species: Shorea macrophylla (20 mother trees), Shorea beccariana (18 mother trees) and Shorea pinanga (3 mother trees). Tengkawang lives in group so there are many alternatives to determine mother trees if the distance be-tween them is put aside. That amount of mother trees might be higher for the big potential of Tengkawang. But the steep topography of the area and the position of Tengkawang trees is in riverbank slope, are the obstacles that will cause difficulties in seed harvesting. Besides, it is also become consideration that those locations are mostly influenced by the tidal of Setulang river.



Survei Potensi Sumber Benih Tengkawang
Malinau, Kalimantan Timur
Kawasan hutan desa Setulang, yang disebut Tane’ Olen, merupakan satu kawasan hutan alam yang sengaja dipertahankan keberadaannya oleh masyarakat sebagai kawasan konservasi untuk kesejahteraan masyarakat sekarang maupun untuk generasi akan datang. Kawasan hutan ini dipelihara oleh masyarakat Dayak Kenyah yang merupakan suku asli Malinau. Hutan seluas 5.300 Ha ini telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi berdasarkan ke-sepakatan antara masyarakat setempat dengan pemerintah daerah Malinau.
Tane’ Olen merupakan daerah yang sangat subur, diciri-kan oleh banyaknya anak sungai yang mengalir sepanjang kawa-san tersebut yang bermuara sampai ke sungai Setulang. Kawasan seperti ini adalah kawasan yang paling cocok untuk Tengkawang. Hal ini terbukti dengan ditemukannya paling sedikit lima jenis Tengkawang. Dari kelima jenis tersebut terdapat tiga jenis Tengkawang yang dulunya merupakan primadona yang memberikan kontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat setempat. Tiga jenis tengkawang tersebut adalah Tengkawang buah besar (Shorea macrophylla), Tengkawang Burung (Shorea beccariana) dan Tengkawang biasa (Shorea pinanga). Tidak tersedianya pasar yang berkelanjutan menyebabkan tata niaga Tengkawang terputus, pada sekitar tahun 1970–1980-an.
Berdasarkan hasil survei pendahuluan pada November 2011, telah terjadi pergeseran musim buah Tengkawang yang se-mula diprediksi berbuah optimal sekitar November-Desember 2011, namun anomali cuaca menyebabkan Tengkawang baru mu-lai berbunga dan diprediksi berbuah optimal pada Februari – Maret 2012. Hal ini serupa dengan kondisi Tengkawang di Kalbar dan Kalteng. Lebih lanjut, kondisi pohon induk juga mempengaruhi kuantitas dan kualitas buah yang dihasilkan. Untuk itu perlu be-berapa standar penetapan pohon induk Tengkawang. Dalam studi ini, penetapan pohon induk Tengkawang sebagai sumber benih didasarkan pada petunjuk teknis yang telah disepakati. Hal yang diutamakan adalah jarak antar pohon induk minimum 50 m, sedangkan keunggulan fenotip bukan prioritas. Hal ini berkaitan dengan tujuan pemilihan pohon induk untuk keperluan konservasi sumberdaya genetik, bukan populasi pemuliaan yang menuntut fenotip superior. Akan tetapi pohon dengan kondisi fisik yang se-hat dan berpotensi menghasilkan buah yang cukup, sangat dipri-oritaskan untuk tujuan tersebut di atas.
Dari hasil eksplorasi ditemukan bahwa ada tiga jenis Tengkawang yang dominan: Shorea macrophylla (20 pohon induk), diikuti oleh Shorea beccariana (18 pohon induk) dan Shorea pi-nanga (3 pohon induk). Tengkawang merupakan jenis pohon yang hidup bergerombol sehingga banyak alternatif penentuan pohon induk jika jarak tidak menjadi penentu. Jumlah tersebut masih bisa lebih banyak lagi diperoleh mengingat potensi Tengkawang yang demikian besar, akan tetapi kendala topografi kawasan yang agak curam dan posisi Tengkawang di tebing sungai dikhawatirkan akan menyulitkan proses pengunduhan buah/biji. Selain itu lokasi yang kebanyakan mengandalkan pasang surut sungai Setulang juga menjadi pertimbangan.
Potential of Tengkawang Seed Resource in Berau Regency, East Kalimantan
Berau Regency in East Kalimantan has complex and protected ecosystem of natural forest. Several area in Berau, Plot Strek in Labanan and Sambarata, are well known with high potential of tree diversity. One of them is Tengkawang species (Shorea spp.).
Based on preliminary survey, there are at least five species of Tengkawang spread out in those area, dominated by Shorea pinanga, Shorea macrophylla and a few of Shorea stenoptera. According to the purpose of genetic diversity conservation of Tengkawang, the coordinate of several tree potentials from the two areas mentioned above have been set by GPS. Furthermore, there will be some other explorations when the optimum fruiting season comes.
Recent collected information shows that Tengkawang in these areas have been equally blooming. Some trees are even bearing fruit but they can be categorized as the initial fruiting term. It is predicted that optimum fruits will be around February to March 2012.


Potensi Sumber Benih Tengkawang di Berau, Kalimantan Timur
Berau merupakan salah satu Kabupaten di Kali-mantan Timur yang mempunyai ekosistem hutan alam kompleks dan terpelihara. Di beberapa kawasan di Berau, yaitu Plot Strek, Labanan dan Sambarata, terkenal mempunyai potensi keaneragaman jenis pohon yang cukup tinggi. Salah satunya adalah jenis Tengkawang (Shorea spp.).
Berdasarkan hasil survei awal, sedikitnya ada lima jenis Tengkawang yang tersebar di kawasan tersebut, akan tetapi yang mendominasi adalah Tengkawang dengan jenis Shorea pinanga, Shorea macrophylla dan sedikit Shorea stenoptera. Sesuai dengan tujuan konservasi keragaman genetik Tengkawang, maka beberapa potensi pohon dari dua kawasan tersebut di atas, telah didata titik koordinatnya (GPS). Untuk selanjutnya, akan dilakukan eksplorasi pada saat musim buah optimal tiba.
Informasi terakhir yang telah dihimpun menyatakan bahwa saat ini, Tengkawang di kawasan ini telah berbunga merata, bahkan ada sedikit yang telah berbuah tetapi masih dikategorikan sebagai musim buah pertama. Berdasarkan perkiraan, buah optimal akan jatuh pada sekitar bulan Februari - Maret 2012.




















































