Wokshop Pembuatan Film Riset lingkup B2P2EHD

B2P2EHD (Samarinda, 12/4/2017)_Dalam rangka pemenuhan kebutuhan pembuatan film documenter hasil-hasil penelitian dan pengembangan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa (B2P2EHD), Seksi KHDTK, Kerjasama dan Pengembangan (KKP) B2P2EHD bekerjasama dengan Pusat Perlindungan Orangutan (COP) mengadakan workshop pembuatan film riset lingkup B2P2EHD di Gedung Pertemuan Dipta Grha, Jumat, 5/4.

[ngg_images source=”galleries” container_ids=”11″ display_type=”photocrati-nextgen_basic_slideshow” gallery_width=”400″ gallery_height=”300″ cycle_effect=”fade” cycle_interval=”2″ show_thumbnail_link=”0″ thumbnail_link_text=”[Show thumbnails]” order_by=”sortorder” order_direction=”ASC” returns=”included” maximum_entity_count=”500″]Workshop pembuatan film ini merupakan rangkaian dari kegiatan pelatihan fotografi yang sudah dilaksanakan satu hari sebelumnya, Kamis, 4/4.

Menurut Wahyuni Mangoensoekardjo selaku Narasumber dari COP, dalam film ada yang namanya durasi, “Durasi tergantung dengan sarana yang akan digunakan, materi yang akan ditampilkan. Contoh media facebook biasanya durasi hanya sampai 1 menit bahkan kurang” ujar Yuyun.

Yuyun juga menambahkan kalau film menggunakan sarana seperti Instagram atau facebook lebih dari 1 menit maka orang akan scroll keatas, lain halnya film di Youtube dengan durasi 1 menit, orang tidak akan terlalu memperhatikan karena di Youtube orang akan mencari informasi yang banyak. “jadi sekali lagi film itu dibuat tergantung dari sarananya, jadi buatlah film menyesuaikan kebutuhannya.” Tegas Yuyun.

“Film adalah karya seni yang dibuat melalui proses, film dapat dihasilkan dari kumpulan gambar/foto maupun film-film mentah yang di rekam menggunakan kamera yang terdapat di handphone, kamera besar, maupun handycam.”kata Yuyun.

Lebih lanjut Yuyun mengatakan, dalam pengambilan bahan mentah sebuah film ada syaratnya yaitu berikan waktu jeda di depan 3 detik, ditengah yaitu film yang akan diambil minimal 5-10 detik kemudian diakhir dari pengambilan sebelum alat dimatikan berikan waktu 3 detik. Hal ini agar editor tidak mendapat kesulitan mengambil yang bagian tengah film tersebut. “Jeda waktu tersebut biasanya digunakan saat melakukan gerak pada kamera atau pada lensa.” Tambah Yuyun.

Menurut Yuyun Siapa saja bisa mengambil objek, tidak harus juru kamera maupun bagian teknik, selama ada alat seperti handphone dengan fitur perekam gambar tinggal menyediakan waktu untuk merekam lalu diserahkan hsail rekamannya kepada editor.

Untuk keperluan pembuatan film Dokumenter itu sendiri, Yuyun menjelaskan dasarnya yaitu Dokumentasi yang berarti suatu cara untuk pencarian, penyelidikan, pengumpulan, pemakaian dan penyediaan.

Dalam workshop tersebut juga dijelaskan teknik-teknik pengambilan gambar diantaranya adalah pengambilan secara long shot, medium shot maupun full shot. Dijelaskan juga bagaimana teknik pengambilan film wawancara bagaimana seharusnya mengambil suatu inti dari pembicaraan yang akan direkam.

“Tidak semua perkataan dari wawancara narasumber ditampilkan dalam film, cukup inti dari perkatannya yang mewakili film tersebut. Hal ini dinamakan Sync.” Kata Yuyun.

Setelah menjelaskan secara teori setiap teknik pembuatan film, workshop dilanjutkan dengan praktek pembuatan Story Board. Yaitu tahapan visualisasi ide dari film documenter yang akan dibuat, berfungsi memberikan gambaran dari film yang akan dihasilkan.

Story Board yang dibuat pada workshop ini dibagi menjadi 3 kelompok trediri dari 3 buah kegiatan yaitu, kegiatan penelitian Pasak Bumi, Kegiatan Kemitraan dan Kegiatan Kunjungan Tamu Balai. Setelah membuat Story Board, masing-masing kelompok mempresentasikan Story Boardnya untuk dapat direview oleh narasumber.

Diakhir acara workshop, Kepala Seksi KKP B2P2EHD, Khuswantoro Akhadi, S.Hut., MAP menyatakan harapannya agar setelah pelatihan pembuatan film ini diperoleh beberapa film documenter riset yang dapat digunakan pada acara pameran Kaltim Fair 2017 di Samarinda serta IUFRO-INAFOR di Jogjakarta.

“Semoga transfer ilmu dari hasil kerjasama antara B2P2EHD dan COP ini memberikan peningkatan kemampuan para peneliti dan teknisi litkayasa serta staf B2P2EHD dalam pembuatan film, sehingga hasil litbang serta kegiatan kantor terdokumentasikan dengan baik tidak hanya berupa foto biasa tetapi sudah menjadi bentuk film.” Tutup Khuswantoro yang mewakili Kepala B2P2EHD menutup workshop fotografi dan film lingkup B2P2EHD. **MSC

%d blogger menyukai ini: