Tujuan Ekonomi dan Konservasi dalam Agroforestri di Tanah Spodosols

Samarinda (B2P2EHD, 30/11/2017)_UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Daerah Aliran Sungai Belayan (KPHP DAS Belayan) melaksanakan FGD (Forum Group Discusion), Kamis (9/11), Pkl. 08.30-14.15 WITA  di Kantor KPHP DAS Belayan, Jalan MT. Haryono 30 Samarinda. Pertemuan tersebut bertujuan menggali informasi terkait kesesuaian lahan untuk jenis tanaman kayu-kayuan yang akan dikembangkan pada demplot agroforestri.di Dusun Ketibeh, Desa Enggelam, Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kartanegara.

FGD ini merupakan bagian dari rencana kerja pengelolaan hutan KPHP DAS Belayan 2016-2025. Acara dimulai dengan sambutan dan pembukaan acara oleh Kepala Balai KPHP DAS Belayan, selanjutnya penyampaian materi oleh perwakilan dari Balai Pengelolaan Hutan Produksi (BPHP) Wilayah XI Samarinda, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman (UNMUL), peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa (B2P2EHD) dan dilanjutkan dengan diskusi.

Menurut Rahmadi, Kepala Perencanaan dan Pemanfaatan KPHP DAS Belayan, demplot agroforestri ini rencananya akan dibangun pada wilayah KPHP yang tidak dibebani izin pemanfaatan kawasan. Dari  hasil sosialisasi terkait rencana pembangunan demplot agroforestri pada masyarakat Dusun Ketibeh, Desa Enggelam, masyarakat menginginkan menanam tanaman nenas, karet dan gaharu. Selain tanaman tersebut akan ditanam juga jenis-jenis tanaman penghasil kayu.

“Bila dilihat dari kandungan pasir yang cukup tinggi pada calon lokasi demplot, tanah tersebut termasuk tanah Spodosol” kata dosen Fakultas Kehutanan UNMUL, Dr. Syahrinudin. “Tantangan tanah Spodosols adalah kesuburan alaminya sangat rendah, pH tanah sangat rendah, pemupukan tidak efektif dan tidak sesuai untuk sebagian besar tanaman” tambah Dr. Syahrinudin. “Jenis tanaman yang potensial dikembangkan pada tanah Spodosols diantaranya adalah Bellucia axinanthera Tianan, Cambretocarpus rotundus, Melaleuca cajuputi, Melaleuca leucadendron, Alstonia pneumatophore dan Anthocephalus cadamba” kata Dr. Syahrinudin. “Namun jenis-jenis ini perlu diuji keberhasilannya pada lokasi yang akan dikembangkan” tambah Dr. Syahrinudin.

Menurut Dr. Wahyuni Hartati, perwakilan RAKI UNMUL (Rumah Akademisi Kehutanan Indonesia) menyatakan bahwa dalam pemanfaatan tanah Spodosols memerlukan kehati-hatian, mengingat tanah Spodosols memiliki beberapa kendala dalam pengelolaannya. Apabila dikelola secara intensif tanah Spodosol dapat mengalami kerusakan yang lebih parah.

“Peluang pemanfaatan lahan tanah Spodosols masih terbuka bila dilakukan dengan penambahan pembenah tanah dan manajemen nutrisi yang tepat” kata Dr. Syahrinudin. Rini Handayani, peneliti B2P2EHD menambahkan bahwa selain memperbaiki kondisi tanah dan manajemen nutrisi, perlu juga memperhatikan pola tanaman. Untuk tanah-tanah dengan resiko pengelolaan tinggi, sebaiknya tidak dikelola secara intensif. Artinya perlu menyelaraskan antara tujuan ekonomi dengan tujuan konservasi/ RH

%d blogger menyukai ini: