Safeguards Sosial dan Lingkungan Untuk Mendukung Program Penurunan Emisi di Delta Mahakam

Focus Group Discussion di Tiga Desa Kec. Anggana Dalam Penelitian Safeguards Sosial dan Lingkungan Untuk Mendukung Program Penurunan Emisi di Delta Mahakam, Kalimantan Timur

 

B2P2EHD (Samarinda, 14-5-2019). Safeguards sosial dan lingkungan merupakan bagian kewajiban dari perencanaan usulan kegiatan dalam program pengurangan emisi. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari dampak negatif sosial dan lingkungan yang dapat ditimbulkan pada saat pelaksanaan kegiatan. Safeguards antara lain digunakan sebagai mekanisme penyelesaian maupun pencegahan konflik sosial, mencegah korupsi, bencana lingkungan dan masalah lain yang muncul bersamaan dengan kebijakan proyek maupun program.

Dalam upaya mendukung Safeguards (Kerangka Pengaman) Sosial dan Lingkungan pada kegiatan Program Penurunan Emisi di Kawasan Delta Mahakam (study kasus: pembudidaya tambak), telah dilaksanakan focus grup discussion (FGD) pada tiga desa (Desa Sepatin, Desa Muara Pantuan dan Desa Tani Baru) di Kec. Anggana, Kab. Kutai Kartanegara, Kaltim dan penelitian lapangan dengan metode survey, observasi langsung dan wawancara untuk mendapatkan data, informasi sosial, ekonomi dan budaya serta persepsi pembudidaya tambak tentang tambak ramah lingkungan (Wanamina).

Pengembangan kerangka terpadu pengamanan (safeguards) sosial dan lingkungan dalam rangka pelestarian lingkungan, pengalihan lahan, dan pengamanan bagi masyarakat, terutama masyarakat rentan untuk menjamin bahwa seluruh kegiatan wanamina sesuai dengan kebijakan pengamanan dan peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia baik di tingkat nasional, provinsi, maupun di daerah. Kerangka pengamanan ini dirancang untuk menjamin bahwa kegiatan wanamina yang  dilaksanakan menimbulkan dampak positif yang optimal dan dampak negatif yang minimal terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

FGD dan Sosialisasi Tambak Ramah Lingkungan di Desa Muara Pantuan pada tgl. 2 Mei 2019

Kegiatan masyarakat yang mendominasi kawasan Delta Mahakam (DM) adalah budidaya perikanan berupa tambak udang dan ikan. Tambak-tambak umumnya dibangun secara ekstensif tradisional dengan luas lahan petakan tambak di atas 5 ha. Hal ini tidak saja dapat merusak hutan mangrove dalam areal yang sangat luas, akan tetapi juga dalam kondisi terbuka seperti itu akan berdampak terhadap perubahan kondisi lingkungan misalnya perubahan kualitas air tambak. Tambak yang dibangun dengan menerapkan dua sistem (pond trap dan shrimp pond) dalam satu tambak menyebabkan pemanfaatan lahan yang luas dengan luas petakan 2 – 50 ha. Plasma nuftah mangrove selaku penyangga kawasan delta dari tahun ke tahun penutupannya makin menurun (deforestasi sekitar 60 %).

Pengembangan tambak pola wanamina dalam pengelolaan mangrove di tingkat lapangan/tapak (site local) di kawasan Delta Mahakam, merupakan bagian dari aksi penurunan emisi yang telah dilaksanakan oleh beberapa lembaga baik lembaga pemerintah (KPHP Delta Mahakam, Dinas Lingkungan Hidup), perusahaan swasta (TOTAL/Pertamina Hulu Mahakam) maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (YML – Yayasan Mangrove Lestari dan Planette Urgence). Upaya peningkatan dan pelestarian fungsi ekosistem hutan mangrove memerlukan suatu pendekatan yang rasional dengan melibatkan masyarakat di sekitar kawasan dan yang memanfaatkan kawasan hutan mangrove. Penerapan pola wanamina di ekosistem hutan mangrove merupakan salah satu pendekatan yang tepat dalam pemanfaatan dan pelestarian kawasan pesisir. Sistem wanamina merupakan upaya konservasi dan pemanfaatan sumber daya mangrove dengan memanfaatkan keuntungan ekonomi dari budidaya perikanan air payau. Pendekatan terpadu wanamina bertujuan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, menghindari bahan kimia dan produk obat-obatan serta daur ulang sampah nutrisi.

FGD dan Sosialisasi Tambak Ramah Lingkungan di Desa Tani Baru pada tgl. 4 Mei 2019

Focus grup discussion (FGD) atau diskusi terfokus dilaksanakan di setiap desa yang menjadi lokasi penelitian yaitu: 1). FGD di Desa Sepatin (tgl. 28 April 2019), 2). FGD di Desa Muara Pantuan (tgl. 1 Mei 2019) dan 3). FGD di Desa Tani Baru (tgl. 4 Mei 2019). Ketiga diskusi terfokus ini dihadiri oleh aparat desa (Kepala desa, sekretaris desa dan staf), Lembaga Masyarakat Desa (LMD), Kelompok Tani dan Nelayan, Kelompok Pemberdayaan Perempuan, Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN) dan para pembudidaya tambak. Narasumber yang dihadirkan pada ketiga FGD tersebut adalah dari KPHP Sub DAS Belayan – Delta Mahakam yang diwakili oleh penyuluh kehutanan dari resort kehutanan Anggana, Balai Penyuluh Perikanan, dan pihak B2P2EHD yang hadir dalam diskusi ini adalah Kepala Bidang Diseminasi, Informasi dan Kerjasama (DIK).

Satu dari tujuan diskusi terfokus tersebut adalah menggali sejauh mana persepsi, pemahaman dan pendapat masyarakat pembudidaya tambak tentang tambak ramah lingkungan. Tim peneliti melakukan wawancara dengan penjaga tambak, pemilik tambak, pedagang pungumpul udang, punggawa dan industri pengolahan dan pengemasan udang windu di Sungai Mariam, Anggana. Dari tiga desa tersebut ada sejumlah 45 responden yang telah diwawancarai. Dari hasil diskusi tersebut ada berbagai persepsi pembudidaya tambak yaitu (1) ada yang setuju dan sudah dengan kesadaraan sendiri untuk melakukan upaya penanaman pohon dalam tambak, (2) ada juga yang awalnya mencoba mengikuti namun ketika mereka menemui kendala atau masalah bahkan kegagalan mereka akhirnya beranggapan bahwa pohon bakau tidak baik ditanam dalam tambak karena akan terjadi pembusukan daun-daun dalam tambak, dan (3) ada juga berpendapat bahwa bakau boleh saja ada di tambak tapi jumlahnya tidak boleh terlalu banyak bahkan (4) ada juga yang tidak setuju sama sekali dengan penanaman jenis-jenis pohon mangrove dalam tambak.

Tim peneliti juga melakukan observasi langsung ke tambak-tambak yang telah menerapkan penanaman pohon dalam tambak pada 15 titik lokasi tambak. Dari hasil obesrvasi tersebut dapat disimpulkan bahwa penanaman pohon dalam tambak yang disukai adalah dengan jarak tanam di atas 5 meter dan jenis bakau yang dapat tumbuh dengan baik adalah Rhizophora apiculata (bakau laki), meskipun selama ini upaya penanaman pohon mangrove lebih banyak dengan jenis Rhizophora mucronata (bakau bini) dan kondisi tanaman jenis tersebut kurang sesuai karena tidak mampu tumbuh dalam keadaan tergenang.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

(Kontributor/penulis  : Tien Wahyuni, R. Fatmi Noor’an &Heri Effendi)
%d blogger menyukai ini: