Pustakawan B2P2EHD mengikuti Diklat Pelestarian Bahan Pustaka untuk peningkatan pengetahuan Melestarikan Bahan Pustaka

B2P2EHD (Samarinda,17/4/2017)_Pustakawan B2P2EHD mengikuti Diklat Pelestarian Bahan Pustaka yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) pada tanggal 22 s/d 31 Maret 2017 di Hotel IBIS Hayamwuruk, Jakarta. Diklat ini diikuti oleh 30 orang pustakawan/ pengelola perpustakaan dari berbagai macam instansi dengan rincian 14 orang dari Perpustakaan Umum Kabupaten/ Kota; 6 orang dari Perpustakaan Khusus Instansi Pemerintah; 5 orang dari Perpustakaan Nasional RI dan 5 orang dari Perpustakaan Perguruan Tinggi/ Sekolah.

[ngg_images source=”galleries” container_ids=”12″ display_type=”photocrati-nextgen_basic_slideshow” gallery_width=”400″ gallery_height=”300″ cycle_effect=”fade” cycle_interval=”2″ show_thumbnail_link=”0″ thumbnail_link_text=”[Show thumbnails]” align=”left” order_by=”sortorder” order_direction=”ASC” returns=”included” maximum_entity_count=”500″]Diklat ini dibuka oleh ibu Hanugrahwati, SH selaku Kepala Bidang Penyelenggaraan dan Pelatihan Pusdiklat PNRI, dalam pidatonya ia mengatakan bahwa Pelestarian bahan pustaka merupakan salah satu bagian dari pelayanan di perpustakaan yang sering diabaikan oleh pustakawan, padahal dengan melestarikan bahan pustaka seorang pustakawan dapat menjaga informasi yang terkandung didalam sebuah bahan pustaka, hal ini terjadi karena faktor ketidaktahuan pengelola serta ketiadaan anggaran untuk pelestarian bahan pustaka.

Melalui diklat ini diharapkan para peserta dapat mengetahui cara pelestarian bahan pustaka yang baik dan dapat menerapkannya di perpustakaan tempat ia bekerja. Secara umum, kegiatan restorasi bahan pustaka bisa dibilang cukup mahal karena hampir semua bahan yang dibutuhkan berasal dari luar negeri dan tidak dapat dibeli secara satuan. Sebagai contoh untuk membuat sebuah sampul buku yang sesuai dengan kaidah pelestarian (menggunakan bahan yang tidak mengandung asam sehingga tidak merusak isinya) diperlukan biaya kurang lebih satu juta rupiah.

Di hari pertama diklat, peserta diajarkan juga berbagai pengetahuan tentang Pengantar Pelestarian Bahan Pustaka dan  Kebijakan Pelestarian Bahan Pustaka. Hari kedua, peserta diajarkan tentang Analisis Kebutuhan Pelestarian Bahan Pustaka dan Persiapan menghadapi Bencana. Hari ketiga peserta diberikan teori mengenai Perawatan dan Perbaikan Bahan Pustaka, dilanjutkan praktek pada hari selanjutnya.

Kegiatan Perawatan Bahan Pustaka berupa cara penyimpanan koleksi yang baik seperti harus diruangan AC selama 24 jam dengan suhu 20 -240 C dengan Kelembaban antara 45- 60%, peletakan buku yang tidak boleh langsung terkena sinar matahari dan cahaya lampu, hal ini agar kertas tidak mudah menjadi rapuh. Pada praktek perbaikan Bahan Pustaka untuk memperbaiki buku yang robek digunakan kertas jepang, kain linen dan lem pcv (semua bahan tidak mengandung asam). Teknik yang digunakan adalah teknik laminasi (melapisi bahan pustaka yang rapuh dengan kertas khusus, dalam hal ini kertas jepang), teknik enkapsulasi (melapisi bahan pustaka dengan plastik pelindung, namun yang diberi perekat hanya sekeliling kertas saja). 

[ngg_images source=”galleries” container_ids=”12″ exclusions=”211,212,213,214″ display_type=”photocrati-nextgen_basic_thumbnails” override_thumbnail_settings=”0″ thumbnail_width=”240″ thumbnail_height=”160″ thumbnail_crop=”1″ images_per_page=”2″ number_of_columns=”0″ ajax_pagination=”0″ show_all_in_lightbox=”0″ use_imagebrowser_effect=”0″ show_slideshow_link=”0″ slideshow_link_text=”[Show slideshow]” order_by=”sortorder” order_direction=”ASC” returns=”included” maximum_entity_count=”20″]Hari Kelima peserta diberikan materi mengenai penjilidan bahan pustaka. Penjilidan yang dimaksud berbeda dengan penjilidan pada percetakan. Penjidan disini adalah menjilid ulang koleksi yang rusak serta menjilid majalah, surat kabar maupun buletin. Bahan yang digunakan adalah  Kertas Qonqueror (61,5 x 86 cm), Kertas Kessing Samson (90×120 cm), Karton Board (65×75 cm) dan (70×100 cm), Karton Millboard, Kertas Marmer/Marbel Paper, Buckram dan Linen.

Hari Ketujuh, peserta diklat diajak mengunjungi Perpustakaan Nasional RI untuk melihat secara langsung proses pelestarian bahan pustaka yang ada disana, setelah itu dilanjutkan dengan Seminar Kelompok untuk mempresentasikan kegiatan preservasi apa yang sudah dilakukan di tempat kerja masing- masing dan menentukan apakah kegiatan pelestarian bahan pustaka tersebut sudah baik atau tidak.

Hari terakhir, diadakan post test untuk mengetahui sejauh mana materi yang diajarkan para widyaiswara sudah dikuasai oleh peserta.

Penutupan dilakukan pada hari Jumat, 31 Maret 2017 dan diumumkan tiga peserta terbaik yaitu Ibu Endang Fatmawati (Perpustakaan Universitas Diponegoro), Ibu Yeri Nurita (Perpustakaan Nasional RI) dan Bpk Hardian Anjar Budiyono (Perpustakaan Kementerian Perdagangan RI).**MAR

MAR= Ditulis oleh Maria Anna Raheni, Pustakawan B2P2EHD

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: