Pulihkah Hutan Alam Kita ?

B2P2EHD (Samarinda, 7-5-2019),

Perspektif Penilaian Pemulihan Saat Ini

Penilaian pemulihan hutan alam setelah penebangan belum memperhatikan wawasan yang lebih luas.  Setiap orang dengan latar belakang pengetahuan yang beragam, mempunyai perbedaan dalam menilai pemulihan tersebut.  Kecenderungan menilai pulih atau tidaknya hutan sangat tergantung pula pada maksud dan tujuan hutan tersebut. Misalnya pada hutan alam produksi, penilaian pemulihan hutan lebih dominan didasarkan ukuran-ukuran produktivitas hutan seperti potensi dan kerapatan hutan. Di sisi lain, masyarakat konservasi lebih memberatkan arti pemulihan pada kondisi ekologi dan konservasi jenis serta lingkungan hutan.

Bagaimana Menilai Pemulihan Hutan?

Menilai pemulihan hutan alam terutama hutan alam produksi, tidak hanya memperhatikan aspek produktivitas tetapi juga aspek konservasi sekaligus.  Hal ini disebabkan fungsi produksi yang melekat pada ekosistem hutan secara keseluruhan.  Penilaian pemulihan hutan secara lebih sederhana yaitu pada pemulihan tegakan hutan.  Pendekatan penilaian ini dapat dilakukan dengan menyusun suatu perangkat berupa rumusan variable penting atau disebut formulasi.

Penyusunan formulasi penilaian pemulihan perlu memperhatikan aspek yang lebih komprehensif.  Aspek yang dinilai mencakup potensi produktivitas tegakan hutan dan konservasi keanekaragaman hayati komposisi penyusun hutan. Pada riset terdahulu kedua aspek penting tersebut sangat banyak digunakan dalam berbagai penilaian pemulihan hutan alam secara terpisah.  Tiap aspek mempunyai banyak sekali komponen ukuran yang digunakan. Parameter aspek produktivitas antara lain kerapatan, bidang dasar dan riap tegakan.  Sedangkan aspek konservasi antara lain meliputi jumlah jenis, tingkat kekayaan, keanekaragaman dan kesamaan komunitas.  Cakupan parameter penilai ini menyangkut dimensi kuantitatif yang bersifat statis maupun dinamis.

Pendekatan dalam menyusun penilaian pemulihan hutan alam setelah penebangan disebut formulasi Karakteristik Biometrik (KKB). Formulasi KKB disusun berdasarkan hasil analisis multi variat komponen utama sebanyak sepuluh parameter kuantitatif tegakan.  Parameter tersebut meliputi kerapatan, bidang dasar, riap tegakan, tingkat kematian, alih tumbuh, jumlah jenis, indeks kemerataan jenis, keanekaragaman Shannon, kekayaan jenis, dan kesamaan jenis. Selanjutnya dilakukan hasil analisis faktor, dan teridentifikasi menjadi empat parameter penting yang meliputi bidang dasar, riap bidang dasar, indeks kemerataan dan kelimpahan jenis. Formulasi yang disusun telah menyederhanakan parameter penilaian dengan tetap menggambarkan pemulihan hutan secara lebih komprehensif.

Formulasi KKB telah diuji pada lima Ijin Unit Pengeloaan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) Hutan Alam di Kalimantan Timur. Pengujian lapangan dilakukan dengan relatif mudah. Dari skala 0-100, hasil pengujian menunjukkan rentang nilai pemulihan yang sempit dan rendah antara 17,01—28,06. Hal tersebut mengindikasikan kecenderungan kondisi tingkat pemulihan yang perlu dipacu untuk dapat meningkatkan atau mempercepat pemulihan hutan. Dengan kata lain, implikasinya adalah tegakan hutan alam setelah penebangan memerlukan tindakan silvikultur yang tepat sesuai dengan kebutuhannya.  Kebutuhan ini dapat diidentifikasi berdasarkan nilai parameter yang rendah dalam parameter pembentuk dalam formulasi.

Skenario penerapan penilaian pemulihan tegakan hutan dapat dimodifikasi sesuai dengan tipe hutan.  Hal ini juga sangat tergantung pada ketersediaan data pendukung dan representasi wilayah hutan yang akan dinilai. Tersedianya data sekunder yang utama adalah data pengukuran tegakan dari plot permanen yang telah dibangun pada areal tersebut. Penentuan sampling yang tepat sangat penting untuk mendapatkan kondisi hutan yang representatif.

Penerapan dan Pentingnya Formulasi Penilaian

Tersusunnya formulasi ini diharapkan dapat bermanfaat dan aplikatif.  Rumusan yang sederhana dapat menggambarkan kondisi pemulihan hutan alam setelah penebangan dengan lebih komprehensif.  Hasil perhitungan nilai yang diperoleh dapat memberikan rekomendasi teknis yang diperlukan dan tepat untuk memacu kondisi hutan baik dari segi produktivitas maupun konservasi keanekaragaman hayati. Teknis pengumpulan data untuk melakukan perhitungan cenderung mudah karena merupakan hal yang lazim dilakukan oleh pengelola/teknisi hutan, tidak memerlukan keahlian tambahan.

Kelti Manajemen Hutan CP : fhsusanty@gmail.com

 

%d blogger menyukai ini: