Peneliti B2P2EHD membuat Prototype alat pengolahan Pasak bumi untuk industry obat tradisional di Kalimantan Timur

DSC03803 - CopyB2P2EHD (Samarinda, 2/9/2016)_Untuk memaksimalkan potensi tanaman obat Pasak Bumi yang menjadi “Icon” tanaman obat di Kalimantan, Supartini, S.Hut., M.Sc, Peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa (B2P2EHD) merancang dan membuat prototype alat pengolahannya.

“Alat yang dirancang meliputi rangka, system penerusan daya, unit penampung bahan baku, unit pencacah, unit penyerbuk dan unit penyalur serbuk akar pasak bumi yang keluar dari alat.” Kata Supartini yang ditemui di Laboratorium Hasil Hutan kantor B2P2EHD Samarinda, 31/8.

Pembuatan alat ini bertujuan untuk mendapatkan manfaat/khasiat menyeluruh dari tanaman Pasak Bumi agar dapat diproses secara optimal, baik itu akar, batang dan daunnya. “Selama ini hanya akar pasak bumi saja yang dimanfaatkan secara optimal, untuk batang dan daunnya sendiri belum”. Urai Supartini.

Supartini menambahkan bahwa hasil yang diperoleh dari pasak bumi sangat beragam, mulai dari kapsul/jamu untuk stamina, obat anti kanker dan obat sakit pinggang serta hair tonic untuk ibu yang melahirkan.

Kegiatan penelitian ini dimulai dari kegiatan pengamatan bahan baku pasak bumi, inventarisasi potensi pasak bumi dilokasi budidaya/penambangan pasak bumi. Selanjutnya melakukan pengamatan proses pengolahan akar pasak bumi dan limbah yang dihasilkan Dilanjutkan dengan perancangan dan pembuatan alat pengolahan produk primer akar pasak bumi menjadi produk sekunder yaitu sebuk pasak bumi.

Lokasi kegiatan terdiri dari beberapa lokasi di Kalimantan. “Pengamatan bahan baku di Kalimantan Tengah, pengamatan proses pengolahan di Kalimantan Selatan dan untuk aplikasi desain prototype nya di Jogjakarta.” Kata Supartini.

Untuk mendapatkan informasi tersebut, Supartini melibatkan beberapa pihak diantaranya adalah rekan peneliti dan teknisi di B2P2EHD Samarinda, pemilik industry kecil pasak bumi dan masyarakat pencari pasak bumi di hutan dan lahan bekas pertanian.

“Penelitian ini sudah berjalan tahun 2015 dan saat ini (2016) sedang dikembangkan kearah indutri kosmetik dan farmasi yaitu pembuatan bedak dingin dan pembuatan teh herbal. Untuk tahun 2017 nanti akan diteliti tentang antioksidan dan fitokimianya” lanjut Supartini menutup pembicaraan. **ANA & MSC

%d blogger menyukai ini: