Pencemaran Udara, Masalah Serius di Perkotaan

FORDA (Serpong, 25/08/2016)_”Pencemaran udara perkotaan saat ini merupakan masalah yang serius. Parameter utama pencemaran udara yang memiliki dampak signifikan pada kesehatan adalah partikulat udara,”kata Ir. Tri Joko Mulyono, MM, Sekretaris Badan Litbang dan Inovasi, mewakili Kepala BLI pada saat memberikan sambutan pada Rakernis Kualitas Udara PM10, PM2.5 di 17 Kota di Indonesia, Auditorium Puslitbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL), Serpong, Kamis (25/08)

Lebih lanjut Sekbadan mengatakan bahwa beberapa peneliti epidemiologi berpendapat bahwa partikulat halus tersebut sangat berbahaya karena dapat menembus bagian terdalam dari paru-paru dan jantung, menyebabkan gangguan kesehatan di antaranya infeksi saluran pernafasan akut, kanker paru-paru, penyakit kardiovaskular bahkan kematian. Partikulat udara halus umumnya terdiri dari partikel-partikel yang berukuran mikro berasal dari sumber antropogenik. Sehingga pemantauan partikulat udara halus yang berukuran kurang dari 2,5 mm (PM2.5) menjadi salah satu parameter penting kualitas udara, serta karakterisasi berbagai spesies kimia pada PM2.5 dan PM10 sangat diperlukan.

“Selain itu, PM2.5 dan PM10 merupakan parameter penting dalam perhitungan IKLH yang selama ini untuk kualitas udara perhitungannya hanya diwakili oleh nilai parameter SO2 dan NO2.  Pentingnya penambahan parameter PM10 dan PM2.5 melalui kegiatan ini sangat diperlukan, karena menurut literatur idealnya perhitungan Indeks Kualitas Udara berdasarkan konsentrasi parameter pencemar udara yaitu PM (PM10 dan PM2.5), SO2, NO2, CO, dan O3. Semakin lengkap parameter yang diukur maka informasi yang diperoleh juga semakin mendekati kondisi yang sebenarnya di lapangan,”tegas Sekbadan.

Hasil pemantauan kualitas udara yang telah dilakukan sejak tahun 2008 s/d 2016 ini di beberapa kota di Indonesia, hasil yang diperoleh tingginya konsentrasi timbal (Pb) di udara ambien di Serpong (Tangerang) dan Cinangka (Bogor), yang diindikasikan berasal dari pembakaran plat timbal yang terdapat pada aki bekas yang dibakar tidak memenuhi persyaratan pengolahan limbah B3. Sehingga dampak dari kegiatan tersebut menurut beberapa penelitian Pb dalam darah anak-anak di Tangerang adalah hampir semua darah anak-anak mengandung Pb di atas 10 ug/dL sedangkan standar WHO adalah sebesar 10 ug/dL.

Sekbadan berharap pelaksanaan kegiatan penelitian dan pengembangan ini disinergikan dengan kegiatan salah satu penelitian yang dilaksanakan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dalam pemanfaatan teknik analisis nuklir untuk karakterisasi polutan udara di Indonesia.

Sinergi lintas kelembagaan yang telah dibangun diharapkan dapat terus berkesinambungan agar kualitas udara Indonesia menjadi lebih baik sekaligus menjadikan lingkungan yang sehat.  Dalam hal ini dukungan FKM-UI dalam hal pengujian timbal dalam darah serta partisipasi Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) dalam sosialisasi serta informasi pencemaran lingkungan sangat diperlukan. Kegiatan ini tidak akan dapat dilakukan secara parsial, kerjasama dengan berbagai pihak sangat dibutuhkan. Hasil yang diperoleh diharapkan dapat meningkatkan kualitas perhitungan Indeks Kualitas Udara (IKU) serta menjadi salah satu referensi berbasis ilmiah dalam merumuskan, mengambil tindakan dan kebijakan yang tepat dan terarah untuk mengatasi permasalahan pencemaran udara.

Selaras dengan hal tersebut, Kepala Pusat Litbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL), Dr. Wahyu Marjaka, mengatakan bahwa tujuan penyelenggaraan Rakernis ini adalah untuk meningkatkan sinergisitas kegiatan P3KLL dengan institusi di daerah dalam penelitian partikulat (PM10dan PM2.5) untuk Indeks Kualitas Udara (IKU) dalam Perhitungan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH)”dan menyampaikan hasil dan mengevaluasi hasil kegiatan penelitian yang telah dilaksanakan P3KLL pada awal Januari 2016 maupun hasil kajian bersama dengan BATAN – Bandung yang dimulai Th. 2008; serta menyamakan persepsi pentingnya pelaksanaan penelitian ini secara terpadu, optimal, menyeluruh, dan berkelanjutan

Selain itu, pelaksanaan kegiatan litbang ini disinergikan dengan kegiatan salah satu penelitian yang dilaksanakan oleh BATAN dalam pemanfaatan teknik analisis nuklir untuk karakterisasi polutan udara di Indonesia. Kegiatan penelitian yang dilakukan akan difokuskan pada pemanfaatan data berbagai parameter spesies kimia pada PM2.5 dan PM10 untuk mengkaji karakteristik sumber pencemar di beberapa kota besar di Indonesia

“Sinergi lintas kelembagaan yang telah dibangun diharapkan dapat terus berkesinambungan agar kualitas udara Indonesia menjadi lebih baik sekaligus menjadikan lingkungan yang sehat.  Sebagai tindaklanjut kegiatan ini, dukungan FKM-UI dalam hal pengujian timbal dalam darah serta partisipasi KPBB dalam sosialisasi serta informasi pencemaran lingkungan sangat diperlukan,”kata Wahyu

Lebih lanjut Wahyu mengatakan bahwa kegiatan ini tidak akan dapat dilakukan secara parsial, kerjasama dengan berbagai pihak sangat dibutuhkan. Hasil yang diperoleh diharapkan dapat meningkatkan kualitas perhitungan Indeks Kualitas Udara (IKU) serta menjadi salah satu referensi berbasis ilmiah dalam merumuskan, mengambil tindakan dan kebijakan yang tepat dan terarah untuk mengatasi permasalahan pencemaran udara.

Rakernis kualitas udara PM10, PM2.5 di 17 kota di Indonesia, dihadiri oleh ± 60 orang yang berasal dari berbagai instansi diantaranya ; Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI-KLHK), Dirjen Pengelolaan Sampah Limbah B3 (PSLB3-KLHK), Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL-KLHK), Direktur Pengendalian Pencemaran Udara (PPU-KLHK), Plh. Kepala PSTNT- BATAN, Puslitbang lingkup BLI, PPPE Sulawesi Maluku, PPPE Bali Nusra, dan beberapa BPLHD Provinsi, Kota dan Kabupaten.***

 

Catatan :PM (particulate matter) atau partikulat adalah suatu istilah untuk partikel padatan maupun cair di udara. Partikel berasal dari berbagai sumber baik bergerak maupun stasioner sehingga sifat kimia dan fisika partikel sangat bervariasi. Partikulat dapat berupa “partikel kasar,” dengan diameter lebih besar dari 2,5 mikrometer dan lebih kecil dari 10 mikrometer, dan “partikel halus,” dengan diameter lebih kecil dari 2,5 mikrometer.***PK

Materi terkait:

  1. Pengembangan IKLH dalam menuju RPJM 2015-2019 oleh Ka. P3KLL
  2. Pemanfaatan Teknik Analisis Nuklir (TAN) dalam Mendukung Pengelolaan Lingkungan Khususnya Kualitas Udara (oleh Prof. Muhayatun Santoso-BATAN-Bandung)
  3. Konsep Perhitungan termasuk Rumus Indeks Kualitas Udara (IKU) dengan pemanfaatan data PM10 dan PM5 oleh Bpk. Dr. Esrom Hamonangan., M.Eng
  4. Konsep Penelitian Kualitas Lingkungan (Udara) dalam Membangun IKLH oleh Ibu Rita., S.Si., M.Si
%d blogger menyukai ini: