Model Kesesuaian Habitat, Dasar Pembinaan Habitat dan Populasi Macan Tutul Secara Efektif dan Efesien

FORDA (Bogor, 08/08/2016)_Pembinaan habitat dan populasi konvensional didasarkan pada hasil survei terestrial evaluasi habitat dan inventarisasi populasi yang membutuhkan banyak sumberdaya waktu, biaya dan manusia, namun hasilnya terbatas dan kurang akurat. Oleh karena itu dikembangkan metode baru yang lebih komprehensif, akurat dan dapat diaplikasikan dengan efektif dan efisien. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Ir.Hendra Gunawan, M.Si dalam Buku 100 Inovasi Badan Litbang dan Inovasi

“Model spasial habitat suitability merupakan dasar akurat untuk melakukan upaya pembinaan habitat dan populasi Populasi Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas Cuvier) secara efektif dan efisien,” kata Hendra

Menurut Hendra, metode ini didasarkan pada model spasial habitat suitability (kesesuaian habitat) dengan memanfaatkan piranti lunak GIS (Geographic Information System). Model spasial habitat suitability disusun berdasarkan komponen-komponen lingkungan habitat yang telah diberi bobot, meliputi tipe vegetasi, status fungsi kawasan hutan, iklim, topografi, elevasi, luas habitat, sumber air dan mangsa. Masing-masing komponen diberi pembobotan sesuai dengan besarnya pengaruh terhadap macan tutul.

“Hasil pemodelan ini adalah peta habitat suitability dengan tiga kelas kesesuaian habitat yaitu kesesuaian tinggi, sedang dan rendah.  Kelas kesesuaian ini menjadi dasar tindakan apa yang harus dilakukan di kelas-kelas tersebu,” jelas Hendra.

Lebih lanjut Hendra mengatakan bahwa model ini mempunyai beberapa keunggulan yaitu ; 1) Menghasilkan tiga peta sekaligus yaitu peta kerawanan habitat terhadap gangguan, peta penggunaan habitat oleh macan tutul dan peta kesesuaian habitat macan tutul, 2) Pembuatannya lebih mudah, murah, cepat dan akurat; 3) Aplikasinya lebih efektif dan efisien mencakup areal yang luas; 4) Dapat diaplikasikan untuk semua jenis satwa dengan memodifikasi faktor lingkungan dan pembobotannya, dan 4) Dapat dengan cepat mengidentifikasi kebutuhan tindakan pembinaan yang diperlukan sesuai dengan kelas kesesuaiannya.

“Dengan modifikasi untuk setiap jenis satwa yang berbeda, model spasial habitat suitability dapat diaplikasikan pada semua jenis satwa, khususnya 25 jenis satwa prioritas konservasi nasional yang perlu ditingkatkan populasinya sebanyak 10% dalam lima tahun mendatang,” ungkap Hendra

Model ini dibuat karena dalam beberapa dekade terakhir deforestasi hutan cenderung meningkat, diikuti dengan menurunnya populasi hingga kepunahan lokal berbagai jenis satwa akibat fragmentasi, degradasi dan kehilangan habitatnya.  Pemerintah mencanangkan target peningkatan populasi sebanyak 10 persen dalam lima tahun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) mendatang (2015-2019). Oleh karena itu diperlukan metode peningkatan populasi satwa yang efektif dan efisien, antara lain melalui kegiatan pembinaan habitat dan populasi. ***

 

Informasi lebih lanjut hubungi:

Dr. Ir. Hendra Gunawan, M.Si

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Jl. Gunung Batu No. 5 Bogor

Email: hendragunawan1964@yahoo,com

HP: 082123070720; 085286643529

%d blogger menyukai ini: