Menyelamatkan Sisa Dipterokarpa di Indonesia

B2P2EHD(Samarinda,14/7/2016)_Tanaman Dipterokarpa di Indonesia yang sebagian besar tumbuh hutan hujan tropis dataran rendah Kalimantan dan Sumatera, saat ini mengalami banyak tekanan yang berdampak terhadap kepunahan jenis dipterokarpa.

Jenis dipterokarpa seperti Meranti, Keruing, Kapur dan Bangkirai pernah menjadi penyumbang devisa non-migas terbesar di era 80 – 90 an. Bahkan sampai saat ini jutaan rakyat Indonesia masih bergantung pada produk hasil hutan dipterokarpa, sedangkan jutaan lainnya memperoleh manfaat ekologi dari eksistensi hutan dipterokarpa.

“Hal ini menjadi ironis sekaligus dilematis, karena ketika jumlah populasi manusia bertambah maka kebutuhan terhadap lahan hutan juga semakin meningkat. Ketika ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju maka dampak kerusakan terhadap hutan semakin besar.” Kata Agus Wahyudi, S.Hut., MSc., Peneliti di B2P2EHD Samarinda.

Agus menambahkan, semakin terbukanya ekonomi dan perdagangan, akan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap eksploitasi dan alokasi sumber daya hutan dalam skala yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

Alhasil, Agus memprediksikan dengan adanya tekanan ini, hutan dipterokarpa yang tersisa semakin terdegradasi, sehingga sebaran dan keragaman jenis dipterokarpa yang ada semakin menurun. Apabila hal ini dibiarkan, maka dalam beberapa tahun kedepan banyak jenis dipterokarpa yang akan punah.

“Maka sudah seharusnya jenis dipterokarpa menjadi prioritas utama konservasi tumbuhan di Indonesia, karena sekali hilang, spesies punah selamanya.” Tambah Agus.

Agus menyadari ada beberapa pertimbangan penting dalam upaya konservasi jenis dipterokarpa yaitu dengan menentukan seberapa besar ancaman terhadap kepunahan jenis ini. Dipterokarpa dapat menjadi langka atau bahkan punah dapat terjadi dalam beberapa tingkatan, yaitu:

  • Globally extinct / punah secara global – sumber daya yang sudah tidak tersedia di mana saja;
  • Locally extinct / punah secara lokal – sumber daya tidak tersedia secara lokal;
  • Commercially extinct / punah secara komersial – sumber daya tidak mencukupi lagi untuk memenuhi kebutuhan komersial.
  • Culturally extinct / punah secara budaya – tanaman yang dulunya mempunyai nilai tinggi di masyarakat menjadi tidak berharga lagi.

Yang terjadi pada jenis dipterokarpa di Indonesia saat ini adalah locally extinct dan commercially extinct. “Oleh karena itu, sebelum menjadi globally extinct, upaya konservasi harus segera dilakukan.” Kata Agus. **AW

%d blogger menyukai ini: