Mengenal KHDTK SEBULU

B2P2EHD (Samarinda, 9/6/2016)_Sebulu dimasa lampau memiliki hutan alam yang bernilai tinggi dengan jenis komersial antara lain meranti merah, meranti putih, kapur, bangkirai dan lain- lain. Ini dibuktikan dengan adanya areal hak pengusahaan hutan (HPH) PT Kutai Timber Indonesia (PT KTI) yang beroperasi sejak tahun 1970 an samoau 1990 an. Disamping jenis diatas, Sebulu juga dikenal sebagai penghasil kayu ulin bahkan sampai saat ini banyak pengusaha kayu ulin tinggal di Sebulu dan Sebulu dijadikan sebagai tempat pengumpulan kayu ulin.

Pada tahun 1991 menjelang berakhirnya kegiatan logging pada areal HPH PT KTI maka dijajaki kemungkinan penelitian antara Badan Litbang Kehutanan dengan PT KTI. Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No 2396/M-D/91 tanggal 11 Oktober 1991, secara prinsip telah disetujui areal seluas 2.960,6 Ha pada areal PT KTI Sebulu, Kabupaten Kutai sebagai hutan penelitian dengan peruntukan kegiatan penelitian dan pengembangan dalam rangka menunjang kegiatan pembangunan hutan secara umum. Selanjutnya pada tahun 1992 dibentuk proyek kerjasama penelitian antara Badan Litbang Kehutanan Departemen Kehutanan dengan PT KTI sesuai Surat No. 1809/VIII-TL-6/92 tanggal 28 Desember 1992. Pada tahun 1997 – 2002 Balai Penelitian Kehutanan Kalimantan (BPKK)  telah melaksanakan berbagai kegiatan penelitian di HPP Sebulu bersama dengan PT KTI, Sumitomo Forestry Co. Ltd., The University of Tokyo dan Tsukuba Reseacrh Institute.

Sejak tahun 2004, kerjasama antara Badan Litbang Kehutanan dengan PT KTI tidak dilanjutkan kembali dengan keluarnya SK No. 20/Kpts/VIII/04 dan No. 01/S.KEP/DIR/2004. Selanjutnya pada tanggal 31 Maret 2004 telah diterimakan aset- aset penelitian berupa plot- plot penelitian, persemaian dan beberapa sarana- prasarana penunjang kegiatan penelitian untuk kemudian menjadi tanggung jawab BPKK dalam pengelolaannya. Sebulu dijadikan sebagai KHDTK Sebulu berdasarkan SK Menhut Nomor 203/Menhut-II/2004 tanggal 14 Juni 2004.

Berdasarkan data pemancangan batas luar KHDTK Sebulu terletak antara 0012’19,27” – 0012’59,64” LS dan antara 116054’52” – 117000’24” BT. Menurut pembagian administrasi pemerintahan, KHDTK Sebulu termasuk Kecamatan Sebulu Ulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Propinsi Kalimantan Timur. KHDTK Sebulu berbatasan dengan PT Surya Hutani dan PT Kitadin (tambang batubara), sedangkan wilayah sebelah utara berbatasan dengan desa Sebulu Utara dan Sebulu Modern, sebelah timur dengan Giri agung dan sebelah barat dengan Desa Beloro. Untuk menempuh lokasi KHDTK Sebulu melalui perjalanan darat dari Samarinda diperlukan waktu kurang lebih 1,5 jam (jarak +/- 90 km).

Keadaan topografi KHDTK Sebulu adalah dataran sampai pegunungan. Keadaan lahan KHDTK ini bergelombang, berbukit dan gunung dengan variasi derajat kelerengan 5- 30%. Pada lokasi ini terdapat 2 buah bukit yaitu Gunung Murakami dan gunung Laspirun. Type iklim di KHDTK Sebulu adalah Type A dengan curah hutan rata- rata 1.949 mm/tahun dengan jumlah hari hujan rata- rata 132 hari. 

KHDTK Sebulu merupakan bekas areal HPH PT KTI yang pada tahun 1997 terbakar berat. Hal ini dapat dilihat dari tegakan sisa yang berdiri maupun yang sudah rebah. Berdasarkan pengamatan di lapangan jenis- jenis pohon yang masih ada dari famili Dipterocarpaceae diantaranya Meranti (Shorea spp), Balau (Hopea spp), Keruing (Dipterocarpus spp) Kapur (Dryobalanops lanceolata), Ulin (Eusideroxylon zwageri), Binuang Laki (Duabanga moluccana), Binuang Bini (Octomeles sumatrana) dan Nyantoh (Palaquium sp.). keadaan tumbuh bawah pada umumnya tidak terlalu rapat, kecuali pada bagian yang terbuka atau pada bagian lembah. Jenis tumbuhan bawah yang banyak dijumpai adalah Sirihan (Piper Aduncum), Mahang (Macaranga spp), Pakis (Diplasium spp) dan Lirik (Alocacia spp). Untuk jenis fauna yang dijumpai dan ada dalam KHDTK Sebulu antara lain monyet, landak, kijang, rusa, babi hutan, kucing hutan, musang, ular, biawak, burung enggang, burung beo, burung punai, burung pipit dan burung gelatik.

Kegiatan penelitian yang dilaksanakan di KHDTK Sebulu adalah:

  • Penelitian waktu penanaman jenis shorea
  • Percobaan peneresan pohon penaung pada jenis shorea
  • Komposisi jenis dan struktur tegakan hutan sekunder bekas perladangan
  • Pengaruh kondisi lingkungan terhadap pertumbuhan tanaman
  • Pengamatan jeregenerasi alam jenis dipterokarpa
  • Teknik Pengadaan bibit 10 jenis dipterokarpa

**ANA-(Dirangkum dari beberapa sumber)

%d blogger menyukai ini: