Membangun masyarakat dari Pinggir, B2P2EHD Transfer Teknologi Pembuatan Sabun ke LSM Yasiwa

B2P2EHD (Samarinda, 22/6/2017)_Sabun merupakan salah satu barang konsumsi rumah tangga yang sangat diperlukan, menurut Andrian Fernandes, S.Hut., Peneliti Balai Besar Litbang Ekosistem Hutan Dipterokarpa (B2P2EHD) yang dikutip dari Badan Pusat Statistik, setiap bulannya kebutuhan masyarakat Indonesia akan pemakaian sabun sekitar 5000 ton.

Hal ini mendorong Andre (panggilan akrab Andrian Fernandes) menggagas penelitian pembuatan sabun yang dimodifikasi dengan bahan Tengkawang. Menurut Andre, teknologi penelitian ini akan dapat membangun perekonomian masyarakat karena menggunakan penerapan teknologi yang tidak terlalu sulit dalam pelaksanaannya.

Untuk dapat merealisasikan penggunaan teknologi tersebut langsung ke masyarakat, B2P2EHD melaksanakan kegiatan pelatihan pembuatan sabun dan krim dari lemak tengkawang selama dua hari yang diadakan di kantor B2P2EHD pada hari rabu dan kamis, 21-22 Juni 2017.

“Saya harap teknologi yang akan kami transfer ke Yayasan Konservasi Khatulistiwa (Yasiwa) ini selanjutnya diterapkan langsung kepada masyarakat, sehingga masyarakat baik yang tidak memiliki maupun yang memiliki industri skala kecil dapat memanfaatkan secara maksimal” kata Andre.

Menurut Andre, transfer teknologi ini tidak hanya bagaimana cara membuat sabun saja, tetapi akan diberikan secara menyeluruh mulai dari pembuatan, packing dan cara menjualnya.

Andre menekankan agar dalam sosialisasinya kepada masyarakat, LSM Yasiwa dapat berkoordinasi dengan pihak B2P2EHD agar teknologi yang disampaikan dapat teradopsi secara menyeluruh. “silahkan nanti Yasiwa bersurat ke B2P2EHD, lalu kami akan mendampingi Yasiwa untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat” tambah Andre.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Bidang Data, Informasi dan Kerjasama B2p2EHD, Ir. Nina Julity, MP., mengatakan bahwa saat ini LSM Yasiwa  menjadi mitra kerjasama dari B2P2EHD untuk dapat menyentuh langsung ke masyarakat.

“Produk turunan tengkawang yang dihasilkan oleh B2P2EHD cukup banyak, akan tetapi pengembangannya masih belum optimal, kami harap dari pelatihan transfer teknologi dengan LSM Yasiwa ini akan menghasilkan manfaat, terutama bagi masyarakat yang nanti akan “disentuh langsung” oleh Yasiwa sebagai pengguna dari hasil penelitian ini” kata Nina.

Nina mengatakan bahwa selama ini hasil-hasil penelitian kami sudah banyak dipublikasikan dalam bentuk jurnal, buku, maupun brosur. akan tetapi hal tersebut belum semuanya dapat teradopsi secara penuh ke masyakarat. “Dengan adanya transfer ke Yasiwa diharapkan penyampaian hasil-hasil penelitian akan tepat sasaran dan teraplikasikan secara baik oleh masyarakat.” tambah Nina.

Menurut Nina saat ini pohon tengkawang banyak tersebar di Malinau dan B2P2EHD sudah melakukan kegiatan kemitraan membangun kawasan tanaman tengkawang seluas 300 hektar. Dengan adanya pelatihan dan kegiatan kemitraan ini kedepannya diharapkan akan tercapai salah satu Nawacita dari Presiden Joko Widodo yaitu membangun masyarakat dari pinggiran. Menggunakan teknologi yang mudah dan ada dalam keseharian masyarakat dengan bahan-bahan yang diperoleh dari hutan langsung. “Sehingga masyarakat akan menjadi sejahtera dan hutan pun terjaga” kata Nina.

Diinformasikan kegiatan pelatihan ini akan dilaksanakan selama dua hari dari tanggal 21-22 Juni 2017 dengan materi acara di hari pertama pelatihan pembuatan sabun dari lemak tengkawang mulai dari teori sampai praktek. Hari kedua pelatihan dilanjutkan dengan pembuatan krim dari lemak tengkawang. **MSC

%d blogger menyukai ini: