Masyarakat Penghasil Buah Tengkawang bersaing dengan Babi Hutan

Samarinda (B2P2EHD, 20/9/2017)_Tengkawang termasuk pohon khas Kalimantan Timur dari family Dipterocarpaceae. Biji tengkawang (Borneo Illipe nut) menjadi salah satu Hasil HUtan Bukan Kayu (HHBK) yang penting sebagai bahan baku lemak nabati dan bernilai tinggi.

Di Indonesia terdapat 13 jenis pohon penghasil tengkawang, dimana 10 jenis terdapat di Kalimantan dan 3 jenis lainnya di Sumatra, adapun yang b iasanya tumbuh di daerah Kalimantan barat adalah jenis tengkawang tungkul yang biasanya disebut meranti merah dengan nama latin Shorea stenoptera Burcks atau Shorea macrophylla dan jenis lain juga dapat tumbuh adalahjenis tengkawang layar dengan nama latin Shorea mecystopterix Ridl.

Informasi dari masyarakat  Desa Penyeladi dan Desa Entuma Kabupaten  Sanggau, sebagai areal penghasil tengkawang, Pemanenan buah tengkawang terjadi pada bulan Desember, Januari, Pebruari dan berakhir Maret, masa pembungaanya dimulai bulan Nopember, Desember dan Januari, Pemanenan buah tengkawang masih dilakukan secara tradisional. Produksi rata-rata 206,14 kilogram buah/pohon., sedangka untuk tingkat regenerasi alami yang paling banyak ditemukan adalah tingkat semai.

Pemungutan buah tengkawang banyak dilakukan masyarkat di populasi alaminya, baik dikebun masyarakat, hutan adat maupun di hutan alam. Kenyataan yang dihadapi sekarang adalah adanya eksploitasi yang mengancam keberadaan pohon penghasil tengkawang dan permasalahan lain adalah apakah selama ini masyarakat memanen biji tengkawang secara lestari, sehingga kedepannya keberadaan buah tengkawang tetap ada dan berkelanjutan.

Sebagai hasil tambahan bila produksi biji telah menurun, kayunya dapat dimanfaatkan sebagai kayu bernilai ekonomi tinggi yang banyak diminati pengusaha baik untuk industry kayu lapis maupun kayu gergajian. Menurut Winarni et al (2005) apabila dinilai maka dalam 1 ha pohon tengkawang akan menghasilkan pendapatan dari biji sebesar Rp. 82,5 juta sedangkan dari kayu Rp. 24 – 48 juta apabila pohn tersebut sudah tidak mampu memprodusi buah tengkawang lagi.

Kendala pada saat musim pemanenan, mereka harus bersaing dengan binatang pemburu seperti babi yang sangat menyukai buah tengkawang untuk dimakan.  Disisi lain meskipun pohon tengkawang termasuk yang dilindungi, masih dijumpai penebangan pohon sehingga populasinya di alam semakin berkurang *KHY

Sumber :

Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol.1 No.2 Desember 2015 –

Judul : Pola Pemanenan Buah Tengkawang (Shorea machrophylla ) Dan Regenerasi Alaminya DiKebun Masyarakat,

Penulis : M. Fajri & Andrian Fernandes

Foto: http://www.mongabay.co.id/2016/06/17/tengkawang-tanaman-maskot-kalimantan-barat-dengan-aneka-manfaat/

%d blogger menyukai ini: