MARJAN HUTAN KALIMANTAN Bagian 1 : Daun Bekai (Pycnarrhena tumefacta Miers) sebagai Bio-vetsin dari Pedalaman Hutan Kalimantan

Gb1. Daun Bekai di ladang warga

Trend kuliner menunjukan kecenderungan masyarakat untuk memilih jenis kuliner dengan kualitas tinggi dan memiliki manfaat lain, misalnya manfaat menjaga kesehatan. Untuk mewujudkannya, penambahan bahan tertentu dalam sajian kuliner/makanan lazim dilakukan.

Adanya kenaikan tingkat ekonomi masyarakat menimbulkan kesadaran akan bahan tambahan (aditif) makanan. Bahan-bahan aditif tersebut sudah mulai bergeser dari bahan sintesis pabrik, seperti MSG (Monosodium Glutamat) menjadi bahan-bahan alami. Contoh bahan tambahan makanan alami (herbal) yang banyak dikenal luas seperti Jahe dan Lengkuas.

Di dusun Nyapa indah, Kab. Berau, Kalimantan Timur juga ditemukan jenis daun yang digunakan sebagai bahan penyedap masakan berkuah, yaitu Bekai (Pycnarrhena tumefacta Miers) dari family Menispermaceae. Secara tradisional, 3 helai daun Bekai digunakan sebagai penyedap masakan 1 panci kapasitas 3 liter.

Amiril mengatakan, “Biasanya Bekai ditambahkan pada masakan berkuah yang menggunakan daging. Penggunaan daun Bekai telah digunakan secara turun-menurun, sehingga Bekai ditanam di halaman rumah atau di bawah tegakan kebun”.

“Bahkan tiap keluarga di Dusun Nyapa biasanya mempunyai tanaman Bekai. Tidak hanya diambil dari hutan tapi penduduk memilih mengambil dari kebun mereka sendiri karena lebih dekat dan tersedia cepat”, begitu yang ditambahkan oleh peneliti senior di Babes Litbang Dipterokarpa ini.

“Hasil penelitian tahun 2016-2017 menunjukkan bahwa daun Bekai mengandung alkaloid, flavonoid, tannin dan steroid. Hasil uji antioksidan dengan metode DPPH menunjukkan bahwa ektrak pekat daun Bekai sebesar 80,09%. Nilai ini mendekati nilai uji antioksidan vitamin C”, ujar Andrian yang melakukan analisa laboratorium daun Bekai.

Sedangkan untuk hasil uji organoleptik, Rizki melakukan uji pada masakan berkuah, yaitu sop daging yang dibuatkan 2 macam, memakai Royco (MSG) dan memakai daun Bekai (Bio-vetsin) dan diujicobakan kepada beberapa responden.“Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa masakan sop yang diberikan ekstrak daun Bekai memiliki rasa dan aroma yang khas. Rasa dan aroma tersebut sangat disukai oleh anak-anak”, imbuh Rizki.

Responden anak-anak lebih menyukai sop dengan tambahan ekstrak daun Bekai dibandingkan dengan sop yang diberi MSG.

Penggunaan esktrak daun Bekai pada masakan memiliki multi fungsi, yaitu sebagai biovetsin dan antikanker. Tingginya nilai antioksidan membuat daun Bekai berpotensi meningkatkan ketahanan tubuh yang berfungsi sebagai antikanker. Oleh karena itu daun Bekai dapat digolongkan dalam Marjan (bahan berharga) yang berasal dari hutan Kalimantan. (AF/RIZMA)

Gb.Sop dengan tambahan ekstrak daun Bekai

%d blogger menyukai ini: