Manfaatkan Aplikasi Teknik Nuklir untuk Karakterisasi Polutan Udara di Indonesia, P3KLL-BLI Tandatangani PKS dengan PSTNT-BATAN

FORDA (Serpong, 25/8/2016)_Dalam rangka memanfaatkan aplikasi teknik nuklir untuk karakterisasi dan identifikasi polutan udara di Indonesia, Kepala Pusat Litbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL)-Badan Litbang dan Inovasi (BLI), KLHK menandatangani perjanjian kerja sama dengan Kepala Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) Bandung – Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) di kantor P3KLL, Serpong (25/8).

Penandatanganan perjanjian kerja sama yang mendukung program pembangunan lingkungan hidup nasional ini dilakukan menyusul penandatanganan nota kesepahaman antara Kepala BLI-Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) dengan Sekretaris Utama BATAN pada waktu dan tempat yang sama.

Dilatarbelakangi perlunya melindungi kesehatan masyarakat dari polusi udara, sinergi lintas kelembagaan yang merupakan lanjutan dan telah berjalan sejak beberapa tahun terakhir ini diharapkan berkesinambungan sampai kualitas udara Indonesia menjadi lebih baik.

“Kegiatan ini tidak akan dapat dilakukan secara parsial, kerjasama dengan berbagai pihak sangat dibutuhkan. Hasil yang diperoleh diharapkan dapat meningkatkan kualitas udara serta menjadi salah satu referensi berbasis ilmiah dalam merumuskan, mengambil tindakan dan kebijakan yang tepat dan terarah untuk mengatasi permasalahan pencemaran udara yang tepat sasaran,” kata Kepala P3KLL, Dr. Wahyu Marjaka, M.Eng dalam laporannya terkait latar belakang kerjasama ini.

“Kami merasa berkepentingan dalam kegiatan MoU ini dalam rangka meningkatkan pemanfaatan hasil riset kami di bidang-bidang lain. Kalau kita punya potensi yang besar yang kita gabungkan akan lebih bermanfaat sehingga apa yang kita dapatkan dari riset kita bisa bermanfaat bagi umat yang lebih besar bukan saja sektoral,” kata Sekretaris Utama Badan Tenaga Nuklir Nasional, Ir. Falconi Margono, MM dalam sambutannya menyusul sambutan Kepala P3KLL.

Sebagaimana diketahui, saat ini pencemaran udara perkotaan merupakan masalah serius. Berdasarkan hasil penelitian epidemiologi, polusi udara yang biasa disebut partikulat halus ini sangat berbahaya karena dapat berpenetrasi menembus bagian terdalam paru-paru dan jantung yang menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, diantaranya infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), kanker paru-paru, penyakit kardiovaskular bahkan kematian.

Partikulat udara halus ini umumnya terdiri dari partikel-partikel yang berukuran mikro yang bersumber dari antropogenik, yaitu sumber pencemaran yang timbul karena campur tangan manusia atau aktifitas manusia, baik statis maupun dinamis. Oleh karena itu, pemantauan partikulat udara halus yang berukuran kurang dari 2,5 µm (PM2,5) dan partikulat kasar (PM2,5-10), salah satu parameter penting kualitas udara ini sangat diperlukan.

Untuk itu, kegiatan penelitian dalam kerjasama ini akan difokuskan pada pemanfaatan data berbagai parameter spesies kimia pada PM2,5 dan PM10 untuk mengkaji karakteristik sumber pencemar di beberapa kota besar di Indonesia yaitu Bandung, Yogyakarta, Jakarta, Serpong, Palangkaraya, Pekanbaru, Surabaya, Semarang, Makassar, Denpasar, Maluku, Papua, Balikpapan, Mataram, Medan, dan Manado melalui pengukuran unsur yang terkandung di dalamnya.

Dari hasil penelitian sebelumnya diketahui, di beberapa lokasi penelitian di Serpong (Tangerang), Cinangka (Bogor) dan Lamongan (Surabaya), kadar logam berat timbal (Pb) di udara melebihi baku mutu udara ambien yang diindikasikan berasal dari pembakaran aki bekas. Parahnya, timbal dalam darah anak-anak di Tangerang dan Lamongan hampir semua melebihi standar World Health Organization (WHO) yaitu 10 ug/dL.***RH

 

Berita Terkait:

Tahun 2015, Logam Berat Pb dalam Darah Anak SD di Tangerang dan Lamongan Melebihi Ambang Batas WHO

Dukung Program Pembangunan Lingkungan Hidup Nasional, P3KLL Tandatangani 3 PKS Sekaligus

Pencemaran Udara, Masalah Serius di Perkotaan

%d blogger menyukai ini: