Libatkan Masyarakat dalam Pengendalian Kebakaran

FORDA (Bogor, 16/08/2016)_Bencana kebakaran hutan, terutama rawa gambut merupakan bencana rutin tiap tahun di Indonesia. Bencana tersebut menimbulkan banyak kerugian, baik material maupun immaterial. Bahkan reputasi Bangsa Indonesia menjadi taruhan. Masalah ini harus segera diselesaikan. Kolaborasi bersama antara pemerintah dengan masyarakat sekitar hutan berpotensi menurunkan frekuensi terjadinya kebakaran hutan.

Hal ini diungkapkan oleh Dr. Drs. Acep Akbar, M.BA., MP., Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hutan dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru dan tim dalam artikelnya yang berjudul “Studi Sumber Penyebab Terjadinya Kebakaran dan Respon Masyarakat dalam rangka Pengendalian Kebakaran Hutan Gambut di Areal Mawas Kalimantan Tengah” dalam Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, Vol. 8 No. 5. Desember 2011, 287-300.

Acep menyatakan bahwa pencegahan kebakaran hutan rawa gambut berbasis masyarakat perlu segera diterapkan di setiap desa dan kampung sekitar hutan rawa gambut dan Kawasan Konservasi Mawas, Kalimantan Tengah.

Menurutnya, strategi manajemen kebakaran hutan berbasis masyarakat telah menjadi solusi alternatif khususnya di negara-negara Afrika dan Asia dengan harapan agar bencana kebakaran dalam skala luas dapat dicegah.

Selain itu, berdasarkan hasil survey opini publik di lima desa contoh sekitar hutan Konservasi Mawas di Kalteng, mayoritas sumber api yang dihasilkan disebabkan oleh ulah manusia dalam mata pencahariannya menggunakan api sehingga sumber api tersebut bersifat rutin. Acep menyadari bahwa sebetulnya sebagian besar penduduk memiliki disiplin dalam hal membakar, tetapi sebagian kecil sering lalai sehingga dapat menghasilkan api liar.

Acep menegaskan bahwa kolaborasi pemerintah dengan masyarakat dapat diwujudkan dengan berbagai penemuan dan penggalian jenis-jenis inovasi pencegahan kebakaran. Dengan syarat bahwa inovasi tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehingga terciptanya proses peningkatan kesadaran, kesiagaan dan difusi inovasi dapat berjalan secara cepat.

berdasarkan hasil penelitiannya, proses pencegahan yang segera mendapat respon dari masyarakat adalah semua pola penyuluhan dan penerapan teknologi yang umum dilakukan dalam pencegahan kebakaran kecuali persiapan lahan tanpa bakar dan pola tanam agroforestry. Pola-pola tersebut dapat dilakukan melalui pola pendidikan dan penerapan rekayasa teknologi pencegahan kebakaran berupa peringatan dini dan bantuan alat pemadam sederhana.  

Selain itu, Acep juga menyarankan Regu Pengendali Kebakaran (RPK) yang telah terbentuk di desa telah diakui keberadaannya oleh sebagian besar masyarakat dijadikan lembaga kontrol kontrol yang bersifat partisipatif sehingga perlu dilakukan fasilitasi pembentukan RPK di seluruh desa dan kampung dan pembinaannya.***THS.

 

Sumber artikel:

http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPHT/article/view/287

 

Sumber Foto: BP2LHK Banjarbaru

%d blogger menyukai ini: