PMK 106 Tahun 2016, Penganggaran Penelitian Berbasis Output

FORDA (Jakarta, 27/07/2016)_“Salah satu terobosan penting dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.106/PMK.2/2016 tentang Standar Biaya Keluaran Tahun Anggaran 2017 adalah pelaksanaan anggaran berorientasi/berbasis pada keluaran hasil akhir (output) penelitian sesuai dengan kualifikasi standar kualitas yang telah ditetapkan dalam tata cara pelaksanaan penilaian,” kata Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Prof.Mohamad Nasir, Ph.D.,Ak pada saat konferensi pers mengenai Standar Biaya Keluaran (SBK) untuk Sub Output Penelitian di Ruang Sidang Utama Lantai 3, Gedung D, Kemenristekdikti, Senayan, Rabu (27/06).

Lebih lanjut Nasir menyatakan bahwa PMK No.106/2016 tentang SBK Tahun Anggaran 2017 merupakan sebuah terobosan besar yang merubah mindset penelitian dalam sistim keuangan negara, khususnya bagi dunia penelitian yang ada di lembaga penelitian kementerian/lembaga dan perguruan tinggi. SBK ini dirumuskan dengan tujuan sebagai standar Sub Keluaran Penelitian dan menjadi acuan bersama untuk menghasilkan sub keluaran yang diperuntukan/berlaku dan digunakan oleh seluruh kementerian/lembaga yang melakukan kegiatan penelitian.

Nasir berharap upaya-upaya pengelolaan kegiatan penelitian dapat secara nyata meningkat hasil keluarannya, karena pertanggungjawaban kegiatan penelitian akan lebih sederhana, sehingga kegiatan penelitian akan dapat bergairah dan menghasilkan invensi yang dapat dilanjutkan menjadi inovasi untuk meningkatkan daya saing bangsa.

Meskipun PMK 106 mulai diberlakukan bagi kementerian/lembaga dan perguruan tinggi untuk Tahun Anggaran 2017, namun masih tetap dimungkinkan bagi kementerian/lembaga yang masih menghendaki mekanisme anggaran seperti saat ini. Menurut Nasir, hal ini dilakukan agar masa transisi akun dan mekanismenya tidak menimbulkan kegaduhan dan terus berupaya mensosialisasikan secara intensif kepada seluruh stakeholders dalam setiap kesempatan dan event, termasuk mengkomunikasikannya kepada para auditor.

Nasir juga menyampaikan bahwa untuk mengimplementasikan PMK 106, pada saat ini Kemenristekdikti sedang menyiapkan petunjuk teknis berupa Pedoman Pembentukan Komite Penilaian dan Tata Cara Pelaksanaan Penilaian Penelitian Menggunakan SBK Tahun 2017 untuk Sub Output Penelitian, yang akan menjadi acuan bagi kementerian/lembaga dan perguruan tinggi serta para pelaku kegiatan penelitian dalam melaksanakan penggunaan satuan biaya untuk sub output penelitian. Pedoman ini juga akan digunakan sebagai panduan bersama bagi Kepala Satuan Kerja Pelaksana, Komite Penilai dan/atau reviewer.

Pedoman tersebut meliputi panduan nengenai tata cara penggunaan satuan biaya, mekanisme perolehan tambahan biaya, komite penilai, dan mekanisme penilaian. Karena pedoman ini akan menjadi acuan dalam penyusunan anggaran penelitian pada tahun 2017, Nasir berjanji untuk dapat menyelesaikan pedoman ini dalam waktu yang tidak terlalu lama, paling lama satu bulan kedepan sudah selesai.

Melalui pengaturan mekanisme baru ini juga diharapkan dapat memberikan daya tarik dan memberi daya dorong kepada para peneliti untuk dapat mengekpresikan seluruh kemampuan yang dimilikinya dengan baik, sehingga mampu berkarya dan menghasilkan hasil riset atau inovasi yang dapat dihilirisasi atau bermanfaat bagi masyatakat. Mekanisme  tersebut diharapkan mampu menjawab keresahan peneliti selama ini, sehingga para peneliti dapat lebih fokus kepada kegiatan meneliti daripada administrasi.

Selain itu, mengingat penelitian sering memerlukan waktu panjang, maka jaminan keberlanjutan riset juga menjadi pre-requisit yang harus diberikan kepada para peneliti, agar mereka mampu berkarya lebih baik dan berkualitas. Di sisi lain, riset merupakan proses pengembangan iptek yang keberhasilan dan waktu penyelesaiannya tidak dapat dipastikan. Oleh karena itu, perlu untuk merevisi Perpres 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa yang sekarang baru dikomunikasikan.

Lebih lanjut Nasir menyatakan bahwa hasil riset mempunyai peranan yang penting dan strategis dalam menentukan keunggulan kompetitif dan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa, sehingga hampir tidak ada negara di dunia ini mempunyai daya saing dan pertumbuhan ekonomi tinggi tanpa memberikan perhatian yang serius terhadap dunia riset. Jika dihubungkan dengan kondisi perekonomian yang dimiliki, tampak bahwa negara-negara yang berada dalam kelompok 10 besar merupakan negara yang mempunyai kondisi perekonomian dan daya saing tertinggi pula.

Nasir memberikan contoh negara Cina, dimana pertumbuhan ekonominya luar biasa dalam 10 tahun terakhir. Di sisi yang lain, Cina juga telah muncul sebagai sala satu negara dengan pertumbuhan atau produktivitas publikasi karya ilmiah tertinggi di dunia. Jelas bahwa saat ini keunggukan kompetitif suatu bangsa telah bergesar dari mendasarkan pada sumber daya alam menuju pada penguasaan iptek.

Kemenristekdikti menyadari sepenuhnya realitas di atas, oleh karena itu terus berupaya untuk meningkatkan kinerjanya dalam bidang riset. Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan terus meningkatkan anggaran untuk penelitian meskipun ditinjau dari presentase terhadap GDP masih sangat rendah sekitar 0,09%. Namun demikian, peningkatan anggaran tersebut belum diiringi dengan peningkatan kinerja dalam bidang riset yang sebanding. Sebagai ilustrasi, dalam produktivitas karya ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi Indonesia masih menempati urutan keempat di Asia Tenggara setelah Malaysia, Singapura dan Thailand.

Oleh karena itu, Nasir menargetkan untuk menjadi champion dalam peringkat jurnal ilmiah internasional di tingkat Asia Tenggara pada tahun 2020. Selain itu, Nasir berharap dengan adanya PMK 106 ini adalah awal dari paket reformasi riset di Indonesia. Dalam waktu dekat akan segera dilakukan kebijakan-kebijakan riset lainnya. Saatnya peneliti Indonesia bangkit dan fokus untuk menunjukkan karyanya bagi Indonesia ke depan dalam rangka menyambut masa emas riset di Indonesia.

Setelah pelaksanaan konferensi pers mengenai Standar Biaya Keluaran untuk Sub Keluaran (Sub Output) Penelitian yang dihadiri oleh seluruh lembaga litbang di kementerian/lembaga dan beberapa perwakilan perguruan tinggi negeri di Indonesi, kemudian kegiatan ini dilanjutkan dengan sosialisasi SBK Bidang Penelitian oleh Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan ***PK

Materi terkait;

  1. Penelitian Berbasis Output by Kemenristekdikti
  2. SBK Penelitian by Direktorat Jenderal Anggaran

 

Sumber foto Menristekdikti : http://www.jitunews.com/  

%d blogger menyukai ini: