Kegiatan Rehabilitasi Hutan Rawang Menjadi Gagasan Awal Kerja Sama B2P2EHD dengan PT. Balikpapan Wana Lestari

B2P2EHD (Samarinda, 18/9/2018) Fenomena tentang kondisi dan keberadaan hutan alam saat ini harus dikelola secara rasional, optimal dan lestari sehingga dapat memberikan manfaat bagi pengelola hutan dan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Ada kawasan hutan yang kadang tidak dikelola secara optimal pada kawasan hutan alam produksi, karena kawasan tersebut sudah tidak produktif lagi yang ditandai dengan potensi pohon niagawi kurang dari 20 m³/ha. Itulah “hutan rawang” Kerusakan pada hutan rawang tersebut terjadi akibat kondisi biofisik maupun gangguan dari luar. Maka perlu dilakukan rehabilitasi melalui kegiatan penanaman dan pemeliharaan dengan jenis-jenis yang cocok dan jenis unggulan setempat.

Salah satu kegiatan rehabilitasi yang dilakukan tim peneliti B2P2EHD di areal hutan rawang PT. Balikpapan Wana Lestari adalah penanaman jenis komersil meranti merah Shorea leprosula  sebanyak 300 tanaman pada plot seluas 2 ha. Jarak tanam yang diujikan adalah jarak tanam 10 meter x 5 meter dan 10 meter x 7,5 meter dengan lebar jalur tanam  2 meter dan 3 meter. Areal yang menjadi plot penelitian pada Km. 36 dari Camp Km.0 atau tepatnya di dekat lokasi persemaian PT. Balikpapan Wana Lestari. Lokasi terletak pada titik GPS : S : 01°08’01.4” dan E : 116°24’25.3”.

Fokus pengamatan selain data pertumbuhan tanaman pada periode waktu beberapa tahun (periode umur tanaman dari 1 – 5 tahun), juga dilakukan pengamatan awal pada tegakan tinggal atau jalur antara pada plot tanaman melalui inventarisasi tegakan untuk semua jenis pohon dengan limit diameter > 10 cm serta inventarisasi jumlah dan jenis anakan (semai, pancang dan tiang) sebagai rona awal kondisi hutan sebelum direhabilitasi. Berikut tabel hasil inventarisasi tegakan  jenis pohon limit diameter  > 10 cm dan anakan  :

 

Plot Jumlah pohon  Jumlah Semai Jumlah Pancang Jumlah Tiang Kisaran diameter (cm)
I 216 78 82 35 11 – 29.1
II 170 56 54 37 11 – 23.1
III 156 67 63 43 11 – 35.5

Dari hasil diskusi dengan Manager PT. Balikpapan Wana Lestari Bapak Asrul Anwar, tentang bagaimana kondisi hutan yang sudah diambang kritis. Disinilah fungsi rimbawan sebagai bagian yang peduli dengan keberadaan hutan perlu diwujudkan sebagai suatu perwujudan konkrit nyata dalam menangani hutan dan segenap komponen ekosistem didalamnya. Maka tercetuslah gagasan untuk melakukan kerja sama antara pihak B2P2EHD dan PT. Balikpapan Wana Lestari.

Kerja sama ini bertujuan untuk mencapai output dari B2P2EHD dalam lingkup mencapai renstra Badan Litbang dan Inovasi 2015 – 2019 tertuang dalam RPPI 3 Peningkatan Produktivitas Hutan. Output yang menjadi target ada 3 yaitu dari pihak B2P2EHD adalah :

1). demplot (plot) tanaman Shorea leprosula; 2). data dan informasi pertumbuhan tanaman umur tertentu pada jalur tanaman dan pertumbuhan tegakan tinggal di jalur antara setiap periode 2 tahun sekali; 3). dampak keterbukaan tajuk terhadap cahaya dan kondisi lingkungan lainnya (suhu, kelembaban dan ph tanah) pada areal rehabilitasi.

Sedangkan dari pihak PT. Balikpapan Wana Lestari mereka lebih menginginkan bagaimana hasil kerja sama ini bisa memberikan suatu solusi terhadap beberapa permasalahan di tingkat lapangan terkait kegiatan rehabilitasi berupa tanam menanam yang dilakukan baik dengan sistem jalur melalui sistem silvikultur TPTJ maupun pengayaan dengan sistem silvikultur TPTI.   Saat ini permasalahan yang ada antara lain : persentase tumbuh belum begitu maksimal dalam periode waktu tertentu, produktivitas pertumbuhan belum menjanjikan, ketersediaan bibit untuk beberapa jenis-jenis tertentu belum mencapai target akibat musim buah terlampau lama, penanganan hama penyakit dari bibit di persemaian sampai bibit yang ditanam di lapangan belum mendapat solusi untuk upaya pencegahannya serta belum adanya metode dan frekuensi pemeliharaan yang efektif dan efisen dari segi biaya dan waktu.   

Harapan dari Bapak Asrul Anwar bagaimana kegiatan hasil kerja sama ini mampu memberikan suatu inovasi dari kegiatan rehabilitasi. Sehingga pihak PT. Balikpapan Wana Lestari dalam merehabilitasi areal-areal yang sudah berkurang potensi kayu nya bukan sekedar menjalankan kewajiban, tetapi menjadi suatu tekad dan niat untuk pemulihan kondisi hutan secara bertahap dan berkelanjutan. Bahkan tidak ragu lagi dalam melakukan investasi besar-besaran. Jadi pengusahaan kayu dengan eksploitasi kayu diameter 40 cm up selain menyumbang untuk devisa negara juga mampu meregenerasikan hutan yang masih tersisa.

Tugas dan fungsi rimbawan tidak mudah dengan berbagai tantangan yang ada. Ego kepentingan sektoral yang beragam di dalam memetakan ijin kawasan dan penggunaan kawasan hutan terkadang masih menjadi lema dan belum tersinkronisasi satu sama lain. Ditambah konflik kawasan dengan masyarakat di sekitar hutan yang menjadikan hutan sebagai tempat untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari mereka. “Dilema ini kita lupakan sejenak bukan berarti diabaikan”. Untuk saat ini marilah kita sesama rimbawan berusaha berbuat agar beberapa pihak yang punya kepentingan tersebut bisa saling bersinergi untuk meregenerasikan hutan yang masih tersisa. (MIL)

%d blogger menyukai ini: