Gaharu – Kehidupan dari Sebuah Pohon Yang Terluka

Gaharu adalah kayu yang terinfeksi dari pohon Aquilaria sp. Disebut ‘kayu para Dewa’, karena penggunaannya berkisar dari dupa untuk upacara keagamaan, parfum di negara-negara Arab, obat anggur di Korea dan berfungsi ornamen di Tiongkok. Sebagai pohon yang sehat, Aquilaria sp tidak bernilai apa-apa, tetapi dengan melukai mekanisme pertahanannya akan menghasilkan gaharu dan pohon itu menjadi komoditas yang berharga.

Harga yang tinggi untuk gaharu dan penipisan sumber daya lokal di alam telah menyebabkan berbagai upaya untuk merangsang pertumbuhan gaharu. Yang paling umum adalah melukai pohon dengan melubangi batang dengan alat bor tangan, melukai dengan pisau besar (parang) atau memahat paku ke batang pohon. Secara umum, upaya semacam itu tidak memberikan hasil yang sangat produktif. Gaharu yang diproduksi dengan perlakuan seperti itu adalah kualitas yang lebih rendah dan hanya dapat digunakan untuk konsumsi rumahan. Selain itu, gaharu berkualitas tinggi membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikembangkan. Hanya selama beberapa dekade terakhir, pendekatan yang lebih ilmiah telah diadopsi untuk budidayanya.

Adalah upaya penularan jamur (inokulan) terhadap pohon-pohon gaharu di lokasi demplot gaharu di KHDTK Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara telah dilakukan. Demplot gaharu ini dibangun sejak tahun 2003 melalui kegiatan kemitraan dengan judul kegiatan pada saat itu adalah Pembangunan demplot social forestry. Bersama dengan Kelompok Tani Pelangi Desa Sumber Sari Kec. Sebulu, di lokasi ini  dibangun plot model Hutan Kemasyarakatan (HKm) di dalam wilayah KHDTK Sebulu seluas 3 hektar dan plot Hutan Rakyat (HR) di kawasan tanah milik warga seluas 3 ¾ hektar.

Meskipun awalnya telah dilakukan penularan jamur (inokulan) dengan perusahaan penyuntikkan jamur namun tidak menunjukkan hasil yang komprehensif. Petani pengelola demplot gaharu, peneliti-peneliti B2P2EHD dan penggiat inokulan gaharu bekerja bersama melalui penukaran informasi tentang jamur dan metode penularan jamur. Kolaborasi ini dilanjutkan dengan melakukan penelitian percobaan dan proses penularan jamur ke dalam pohon gaharu di demplot tersebut.

Untuk mendapatkan gaharu dari pohon penghasil gaharu diperlukan upaya induksi jamur stimulan gaharu melalui beberapa tindakan perlakuan penularan.    Meskipun telah banyak beredar jamur (inokulan) untuk pohon penghasil gaharu di pasaran, namun untuk meyakinkan has

il penularan jamur (inokulan), bahan inokulan dibuat sendiri berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan yang telah lama dilakukan. Bahan utama pembuatan jamur (inokulan) yang dibuat berasal dari hutan di sekitarnya yaitu Ganoderma lucidum (jamur merah atau jamur kayu, seperti pada gambar), lumut pada batang pohon dan gubal gaharu hasil perlakuan terdahulu.

Ada beberapa perlakuan penularan jamur pada pohon penghasil gaharu yang telah dan pernah dilakukan dan kemudian diamati perkembangan penularan jamurnya yaitu :

  • Pohon gaharu disuntik, dimasukkan jamur (inokulan) dengan melakukan pengeboran pada batang;
  • Pohon gaharu disuntik dan dialiri air infus yang mengandung jamur
  • Pohon gaharu dibalut sekeliling batang dengan jamur
  • Kulit pohon gaharu dikupas dari atas ke bawah lalu dilakukan pengolesan cairan jamur (inokulan)

Meskipun diketahui ada banyak metode penularan jamur yang sudah berkembang saat ini, namun dari upaya penelitian dan pengamatan yang berkali-kali dan terfokus pada metode penularannya, akhirnya ditemukan metode yang dianggap efisien dan tepat dengan jangka waktu yang tidak terlalu lama. Dari keempat perlakuan yang telah dilakukan bahwa teknik pengolesan pada kulit batang yang dikupas dianggap sebagai teknik yang paling efisien, karena jamur akan menular melalui cairan kambium batang dan masuk menyebar ke dalam batang dari pangkal hingga ke ujung batang.

            Dari hasil pengolesan cairan jamur (inokulan) hasil pencampuran sendiri, dilakukan pengamatan proses penularan jamur telah menunjukkan hasil yang signifikan. Penularan jamur menyebar secara merata ke dalam batang pohon gaharu. Pengolesan dilakukan secara bertahap dengan selang waktu 6 bulan. Memasuki usia 1,5 tahun dari pengolesan pertama menunjukkan pembentukan gaharu yang dapat dikategorikan dalam kelas kualitas kemedangan dan gubal gaharu utuh. Untuk mendapatkan kualitas gubal gaharu dengan kualitas yang tinggi, dari percobaan ini diprediksi memerlukan waktu 3 tahun dengan 6 kali pengolesan. Semua proses kolaborasi percobaan penularan jamur (inokulasi) tersebut terekam dalam gambar-gambar terlampir. (TW& MAR)

%d blogger menyukai ini: