Belajar Mengenal Stek : Salah satu alternatif perbanyakan massal secara vegetatif

Samarinda (B2P2EHD, 19/08/2018), Green House B2P2EHD atau dikenal juga dengan rumah kaca adalah bangunan yang berfungsi untuk menempatkan bibit stek pada tahap proses pembentukan akar. Rumah kaca dengan system KOFFCO (Komatsu Forda Fog Cooling System) merupakan teknologi yang dikembangkan untuk perbanyakan massal jenis-jenis meranti dan jenis indigenous lainnya. Green House memberikan kesempatan kepada para mahasiswa Praktek Kerja Lapangan Fakultas Kehutanan UNMUL untuk belajar mengenal perbanyakan secara vegetatif memalui stek pucuk dengan didampingi Lydia Suastati, S.Hut, M.Sc (Peneliti) dan Supriadi (Teknisi).

Stek (cutting) dapat didefinisikan sebagai suatu perlakuan pemisahan, pemotongan beberapa bagian dari tanaman seperti akar, batang, daun dan tunas dengan maksud agar bagian-bagian tersebut membentuk akar baru.

Keuntungan propagasi melalui stek ini adalah banyak tanaman baru yang diperoleh dalam ruang yang terbatas dan stok yang terbatas pula. Biaya pengadaan stek murah, cepat, mudah dan tidak memerlukan teknik tertentu seperti grafting atau budding. Dengan stek dapat pula diperoleh keseragaman yang tinggi, tanpa perbedaan genetis persis seperti induk. Stek dapat dibuat dari bagian batang, rhizoma daun atau akar (Hartmann dan Kester, 1961).

Adapun tahapan pembuatan bahan stek pucuk yang di kerjakan oleh para mahasiswa praktek adalah:

  1. Menyiapkan media tanaman, yaitu campuran serbuk kulit kelapa dan sekam padi dengan perbandingan berat 2 : 1. Setelah itu media tanam disterilkan untuk meminimalkan adanya jamur dan telur-telur serangga, dengan cara solarisasi yaitu media dijemur di bawah sinar matahari. Selanjutnya, media tanam dimasukkan di sungkup propagasi yang telah disusun pada green house,
  2. Pengumpulan dan pemilihan cabang ortotropik balangeran untuk stek pucuk, yaitu berbatang lurus, berukuran seragam dan berdaun segar,
  3. Pemotongan stek pucuk dengan panjang 15 cm dan pemangkasan daun menyisakan 2 – 3 daun teratas dan digunting sebanyak 2/3 bagian. Pada dasar stek pucuk digunting miring ± 45º
  4. Stek pucuk kemudian dimasukkan dalam ember plastik berisi air dengan bagian pangkalnya terendam air,
  5. Stek pucuk lalu ditanam pada media dalam sungkup propagasi yang telah disiapkan,
  6. Stek pucuk sebelum ditanam terlebih dahulu diberi hormon perangsang akar (Rootone-F)
  7. Membuat lubang tanam pada media dengan menggunakan stik kayu yang bersih agar pada saat penancapan/penyemaian stek pucuk, hormon perangsang akar dan pangkal stek tidak rusak kena gesekan media,
  8. Kemudian stek pucuk ditanam sedalam 1/3 panjang stek, lalu dipadatkan ke arah bagian stek yang tertanam dalam media,
  9. Penyiraman stek pucuk dengan air secukupnya agar terjadi kontak yang baik antara stek yang ditanam dengan media tumbuhnya,
  10. Sungkup propagasi ditutup dengan rapat agar sirkulasi udara dalam sungkup tetap terjaga keseimbangannya

Beberapa hasil ujicoba terhadap stek pucuk pada beberapa jenis dipterokarpa di berbagai lokasi menunjukkan persen berakar yang bervariasi (23 – 88.33%) dan rata-rata stek jenis-jenis meranti mulai berakar dengan baik pada umur 11 minggu sehingga minggu ke 12 sudah bisa dilakukan proses pengadaptasian ke persemaian (Tabel 1).

Tabel 1. Hasil ujicoba stek pucuk jenis dipterokarpa di beberapa lokasi

Lokasi

Percobaan

Persen berakar (%) Sumber pustaka
S. leprosula Miq. S. johorensis Foxw. S. balangeran Korth.
Kenanga 50,00 23,00 Subiakto et al. 2005
Katingan 77,00 66,00
Bogor 72,00 77,00
Banjarbaru 75,30 Rusmana et al. 2005
Bogor 70,20 41,00 70,70 Subiakto et al. 2006
Banjarbaru 69,70 68,50
Kuok 27,70 35,70 42,90
Samarinda 53,60 78,90 91,30
Samarinda 69,20 78,90 Sakai dan Subiakto (2007)
Kuok 27,70 35,70
Banjarbaru 53,60
Bogor 70,20 41,00
Bogor 88,33 Danu et al. 2010
Samarinda 83,06 Cahyono et al. 2012

Sumber : Lydia Suastati (Peneliti B2P2EHD)

%d blogger menyukai ini: