Balitbangda Propinsi Kalimantan Timur Memfasilitasi Diseminasi Hasil-Hasil Penelitian B2P2EHD

Tanggal 31 Juli 2018, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kalimantan Timur (Balitbangda Kaltim) melaksanakan acara Fasilitasi Kegiatan Diseminasi Kelitbangan di lingkup daerah. Acara ini merupakan program Balitbangda Kaltim yang bertujuan untuk meningkatkan korrdinasi dan kerjasama dengan seluruh badan litbang yang ada di daerah Kaltim termasuk B2P2EHD. Acara ini dihadiri lebih kurang 100 orang peserta yang berasal dari perwakilan Baristand, BPOM, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Kaltim, BLHD Provinsi Kaltim, Badan Litbang Tingkat kota/Kabupaten, Dinas Kesehatan, civitas akademika, Himpenindo Kaltim, LSM, CSR Perusahaan di Kaltim dan beberapa instansi pemerintah daerah maupun swasta terkait lainnya.

H. Eddy Kuswadi, SE, MM (Kepala Balitbangda Kaltim) saat pembukaan menyatakan bahwa acara ini merupakan agenda kegiatan bidang Inovasi dan Teknologi Balitbangda. Dimana kegiatan ini nantinya diharapkan dapat menggali potensi yang ada di daerah mengingat Pulau Kalimantan memiliki biodiversitas tinggi yang berpotensi untuk dimanfaatkan terutama Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)-nya.
“Ke depannya, melalui kegiatan semacam ini, Balitbangda sebagai institusi kelitbangan daerah akan menjalankan salah satu TUSInya yaitu memfasilitasi kegiatan-kegiatan penelitian, pengembangan dan inovasi yang mengangkat potensi daerah dengan tetap memperhatikan aspek Lestari”, Imbuhnya.

Kabid Data, Informasi dan Kerjasama (DIK), Ir. H. Eded Suryadi, MM selaku mewakili Kepala B2P2EHD mengatakan, “Hendaknya Balitbangda dan institusi kelitbangan lain termasuk kami dapat bersinergi untuk bersama-sama memajukan Litbang agar eksistensi Litbang lebih dapat dirasakan manfaatnya oleh segenap masyarakat dan user lainnya”.
“Kegiatan seperti ini agar terus dapat dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan ke depannya,” lanjut Eded.

 

 

Tiga peneliti B2P2EHD yang tergabung dalam Kelompok Peneliti Teknologi Hasil Hutan memaparkan beberapa produk hasil inovasinya. Pemateri pertama adalah Supartini, yang memperkenalkan bahwa ada jenis pasak bumi bumi merah (Rennellia elliptica) dan pasak bumi hitam (Trivalvaria macrophylla), selain pasak bumi kuning (Eurycoma longifolia) yang telah dikenal luas.
Kali ini produk inovasi yang diperkenalkan adalah Bolu Pasak Bumi, dimana wujud produk ini memungkinkan untuk dapat dinikmati oleh segala usia dan tanpa batasan gender.
Suapartini juga menyampaikan bahwa bagian daun pasak bumi memiliki sifat antioksidan yang tinggi dan rendemen ekstrak larut air yang tinggi sehingga berpeluang digunakan sebagai bahan teh celup.

Pemateri berikutnya adalah Andrian yang mengulas potensi penggunaan daun Bangkirai (Shorea laevis) yang telah digunakan oleh warga Dusun Nyapa Indah sebagai obat tradisional untuk terapi komplementer hipertensi, diabetes, dan beberapa penyakit lainnya.
“Pemanfaatan daun Bangkirai sebagai teh celup dan produk turunan lainnya merupakan salah satu jalan pemanfaatan pohon Bangkirai tanpa harus melakukan penebangan”, kata Andrian dalam paparannya.

Mater terakhir disampaikan oleh Rizki Maharani tentang aplikasi Borneo Tallow Soap with Gurjun Oil (BTSGO). Aplikasi BTSGO tersebut dapat dilakukan mulai tingkat yang sederhana untuk industri rumah tangga dengan produk sabun antibakteri.
“Produk sabun ini dapat dibuat dengan mudah serta memakai bahan-bahan aditif herbal yang terdapat di alam untuk meningkatkan aroma dan gunanya sesuai peruntukan sabun, sabun kesehatan atau kecantikan, apalagi potensi di Kaltim ini sangat besar”, Lanjut Rizki.
Di sisi lain, BTSGO juga dapat diaplikasikan dalam industri yang lebih besar dengan produk sabun dengan aroma mewah yang setara produk alami keluaran The Body Shop ataupun produk luar lainnya.

Di akhir acara, Prof. Syacrumsyah Asri sebagai mantan Kepala Balitbangda Provinsi Kalimantan Timur dan merupakan Profesor Riset pertama dari Kementerian Dalam Negeri menyatakan bahwa riset yang dipaparkan telah sesuai dengan RIRN (Rencana Induk Riset Nasional) tahun 2017-2045 bidang Kesehatan. “Riset berbasis bahan baku lokal harus dikawal, diberikan peluang untuk berkembang dan dapat menghasilkan paten”, Tutupnya. (AF/RIZMA).

 

 

%d blogger menyukai ini: