Arboretum Sempaja dan perannya untuk memperbaiki kualitas udara di Kota Samarinda

B2P2EHD (Samarinda, 23/6/2016)_Pesatnya pembangunan properti, bekas pembukaan lahan tambang yang tidak direklamasi serta banyaknya kendaraan di Kelurahan Sempaja, Kota Samarinda membuat penurunan kualitas udara. Hal ini menjadikan kondisi lingkungan sekitar menjadi berdebu, panas menyengat di siang hari dan dapat menyebabkan penyakit pernafasan.

Salah satu peran B2P2EHD untuk menekan kerusakan lingkungan tersebut adalah dengan memanfaatkan potensi tanaman Arboretum Sempaja untuk menyerap karbon yang terletak di antara kantor dan perumahan B2P2EHD. Keberadaan Arboretum Sempaja dinilai sangat strategis, karena daerah sekitar kantor B2P2EHD yang dahulunya banyak rawa telah banyak berubah dengan dibangunnya gedung dan perumahan.

Dengan kata lain terjadinya perubahan tersebut menyebabkan banyak pohon yang ditebang, sehingga luas areal tumbuhan berkayu di sekitar kota menjadi berkurang. Perubahan fungsi ini dapat menyebabkan terjadinya beberapa permasalahan lingkungan seperti pencemaran udara oleh debu dan gas beracun, pencemaran air oleh erosi tanah pada musim hujan dan naiknya suhu pada siang hari.

Agung Suprianto, Pengelola Arboretum Sempaja mengatakan, Arboretum Sempaja berperan penting dalam mengatasi buruknya kondisi udara di sekitar Kelurahan Sempaja ini, “koleksi tanaman yang ada di Arboretum Sempaja sampai dengan saat ini berjumlah 37 jenis tanaman pokok, hal ini jelas membuat kondisi udara disekitar Arboretum menjadi sejuk” tambah Agung.

“Dahulu disini (Kelurahan Sempaja) banyak sekali pepohonan, udara masih sejuk dan tidak sepanas beberapa hari ini, beruntung dengan adanya Arboretum Sempaja maka kita masih dapat merasakan sejuknya udara pada siang hari” ucap Agung yang saat ditemui sedang melakukan ekspedisi penangkapan dan pelepasliaran satwa Owa-owa dari areal hutan perumahan Damanhuri Samarinda ke Arboretum Sempaja.

Agung juga menambahkan selain untuk menunjang kualitas udara di sekitar, Arboretum Sempaja juga dapat dijadikan tempat untuk olahraga, fotografi dan penelitian. “Sudah banyak masyarakat Kota Samarinda yang melakukan kegiatan jogging di track arboretum, foto prewedding dan selfie” ujar Agung.

Arboretum Sempaja dibangun bersamaan dengan dibangunnya kantor Balai Litbang Kehutanan Kalimantan yaitu pada tahun 1986. Areal arboretum ini merupakan satu kesatuan dengan kantor dan perumahan Balai Besar Penelitian Dipterokarpa dengan luas ±4ha. Dari Luasan ini 2,5 ha ditetapkan sebagai Arboretum. Pada awalnya Arboretum tersebut merupakan kebun karet. Jauh sebelum ada tanaman karet, kawasan tersebut merupakan kawasan hutan yang ditumbuhi banyak pohon ulin yang umurnya diperkirakan ratusan bahkan ribuan tahun. Hal tersebut Nampak dari sisa tonggak ulin dengan diameter yang sangat besar yang masih tersisa dan tersebar di seluruh areal arboretum. Tujuan dibangunnya Arboretum Dipterokarpa adalah untuk pelestarian sumber plasma nutfah, sarana pendidikan dan penelitian serta sebagai sarana rekreasi. Disamping itu Arboretum Dipterokarpa juga dapat berfungsi sebagai konservasi ex-situ dan sebagai sarana untuk memperkenalkan jenis-jenis pohon niagawi Kalimantan kepada masyarakat luas. Untuk mewujudkan tujuan tersebut maka tahun 1985 dimulailah penanaman beberapa jenis meranti (Shorea spp), kapur (Dryobalanops sp) dan agatis (Agathis borneensis) di sela-sela tanaman karet. Secara bertahap introduksi jenis-jenis tanaman hutan dilakukan dengan menebang pohon-pohon karet yang sudah tua dan tidak produktif. **MSC,ANA

%d blogger menyukai ini: