Agrosilvofishery yang Kolaboratif, Pengelolaan Gambut Mencegah Asap

BP2LHK Palembang (Palembang, 16/08/2016)_Sebagai upaya pencegahan kebakaran lahan gambut yang hampir setiap tahun terjadi, Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Palembang menginisiasi pengelolaan lahan gambut secara ramah lingkungan dalam bentuk Model Budidaya Agrosilvofishery (Wana Mina Tani).

Kegiatan ini difokuskan di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mengingat OKI merupakan wilayah dengan lahan gambut terluas di Provinsi Sumatera Selatan dan jadi penyumbang asap hampir di setiap musim kemarau. Asap umumnya timbul dari areal yang terbakar akibat masih dominannya aktivitas budidaya dan ekstraksi sumberdaya alam dengan penggunaan api.

Sebagaimana diketahui, tahun 2016 ini, di Kabupaten OKI sedang dilaksanakan pencetakan sawah pada lahan rawa lebak dan rawa gambut terlantar seluas 11.000 hektar. Pencetakan sawah mendukung pencapaian swasembada pangan, khususnya beras ini merupakan program nasional yang dilaksanakan Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Mabes TNI AD – Dinas Pertanian Tanaman Pangan Prov. Sumsel dengan Kodam II Sriwijaya – Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. OKI dengan Kodim Kab. OKI.

Menurut peneliti BP2LHK Palembang, selain untuk mendukung ketahanan pangan, program pencetakan sawah pada lahan rawa gambut ini juga erat kaitannya dengan program pencegahan kebakaran lahan dan hutan karena kebakaran paling banyak terjadi pada lahan rawa gambut terlantar.

Terlebih, areal pencetakan sawah di Kab. OKI merupakan lahan potensial sebagai demplot pencegahan kebakaran lahan berbasis agroforestry yang dilaksanakan oleh masyarakat lokal. Salah satu lokasi program tersebut adalah Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Tanjung Lubuk yang masuk dalam kategori areal penggunaan lain (APL) yang kondisinya sering terbakar pada musim kemarau, termasuk pada tahun 2015.

Adapun luas lahan yang diperuntukkan dalam pencetakkan sawah adalah 750 hektar, yang terbagi atas: 470 hektar pada lahan gambut di Tanjung Beringin Trans dan 280 hektar di Tanjung Beringin Induk. Berbasis agoforestry, areal yang terbakar dimanfaatkan masyarakat lokal untuk budidaya padi sonor. Sebagian lahan gambut di wilayah ini telah dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh PT. SES.

Hasil penelitian, kondisi biofisik lahan rawa di Desa Tanjung Beringin Induk dicirikan dengan kondisi genangan yang masih dalam (> 50 cm). Lahannya ditumbuhi vegetasi asli seperti  perumpung dan sebagian besar berupa lahan mineral berbahan sedimen aluvial serta bergambut tipis. Genangan masih dalam karena areal berdekatan dengan sungai Ogan yang sedang banjir sehingga air dari areal tidak dapat mengalir ke badan sungai.

Sedikit berbeda dengan di Tanjung Beringin Induk, lahan rawa di Tanjung Beringin Trans seluruhnya berupa rawa gambut yang dengan kedalaman bervariasi antara 36 hingga 350 cm. Sebagian lahan gambut tersebut terbakar pada tahun 2015 lalu. Lahan yang tidak terbakar menyisakan vegetasi asli perepat (Combretocarpus rotundatus) dan gelam (Melaleuca leucadendron).

Pada saat dilakukan pengukuran pada bulan Juni 2016, peneliti mencatat kedalaman muka air tanah pada 20 titik pengamatan berkisar antara 8 – 32 cm atau tergolong muka air tanah dangkal sampai sedang. Berdasarkan informasi dari masyarakat lokal, pada puncak musim hujan seluruh areal gambut yang sedang diproses untuk pencetakkan sawah kondisinya tergenang setinggi 50 – 100 cm.

Lahan tersebut sejatinya merupakan habitat bagi berbagai jenis ikan lokal seperti, gabus, sepat, tembakang, betok dll. Namun, konversi lahan gambut menjadi sawah tentunya akan mempengaruhi keberadaan ikan-ikan tersebut.

Harapannya, polusi asap akibat dari lahan gambut yang terbakar dapat dihentikan dengan pengelolaan secara ramah lingkungan seperti yang diusulkan oleh BP2LHK Palembang dan hal tersebut direspon secara positif oleh pemerintah dan masyarakat setempat karena dapat memberikan sumber pendapatan bagi masyarakat.***Mamat

%d blogger menyukai ini: