Advis Teknis Bawang Tiwai (Bawang Dayak) dalam Pengembangan Skala Industri Kecil

B2P2EHD (Samarinda, 7/7/2017)_Salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) berbasis konservasi yang ada di Kalimantan Timur yaitu Yayasan Konservasi Khatulistiwa (Yasiwa) pada hari selasa, 4/7, yang lalu meminta advis teknis kepada Peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa (B2P2EHD) terkait diversifikasi produk Bawang Tiwai atau Bawang Dayak.

Andrian Fernandes, S.Hut., Peneliti Teknologi Hasil Hutan (THH) B2P2EHD yang memberikan advis teknis mengatakan bahwa saat ini konsep pengobatan tidak hanya terbatas pada bentuk jamu yang pahit, tapi ada bentuk lain yang memiliki rasa tidak pahit melalui diversifikasi produk.

“oleh karena itu dapat dikembangkan sentra industri kecil jamu berbahan baku tumbuhan obat setempat.” Tambah Andrian.

Seperti diketahui, bawang tiwai ternyata memiliki banyak manfaat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, bahkan sampai penyakit kronis seperti kanker.

Monica Kusneti yang akrab dipanggil Kiki, Ketua Yasiwa merasa perlu melakukan konsultasi secara teknis dari jenis bawang tiwai tersebut, mulai dari diversifikasi, proses  pengolahan, sampai proses pengurusan perijinan dalam skala industri rumah tangga.

Kiki menginginkan pengolahan bawang tiwai tersebut tidak hanya secara konvensional, tetapi dapat dikembangkan lebih lanjut. “Contohnya seperti buah tengkawang yang didiversifikasi menjadi berbagai macam seperti sabun, krim dan bahan makanan” kata Kiki.

Menurut Kiki, bawang tiwai apabila dapat diolah menjadi produk teh celup, kapsul, es lilin herbal maupun teh gelas akan memberikan nilai lebih. Selain bentuknya menjadi menarik. “Hal ini akan menciptakan ragam bentuk olahan tanaman obat tanpa mengurangi manfaat obat yang terkandung didalamnya” tambah Kiki.

Sementara itu, Supartini, S.Hut., MSc., Peneliti Teknologi Hasil Hutan B2P2EHD yang juga mendampingi kegiatan advis teknis mengatakan tidak hanya produk obat-obatan yang akan tercipta nantinya.

Pada pendampingan advis teknis ini, Tini membuatkan kue bolu yang didalam bahan pembuatannya di masukkan olahan bawang tiwai.

“Dari bawang Tiwai (Bawang Dayak) tersebut juga bisa dibuatkan makanan herbal berkhasiat obat sebagai bentuk diversifikasinya” kata Tini.

Pada akhir kegiatan advis teknis, Kiki mengutarakan harapannya bahwa dari kegiatan diversifikasi ini nantinya masyarakat dapat terpacu untuk menanam. Karena untuk memperoleh tanaman berkhasiat obat tersebut, kondisi hutan harus dalam kondisi baik sehingga kebutuhan akan pemenuhan tanaman berkhasiat obat tersebut dapat tercukupi. **MSC

%d blogger menyukai ini: