KHDTK Muara Kaeli

  1. Letak dan Luas Wilayah

peta

Kawasan HPP Barat Muara Kaeli secara geografis terletak antara 0029’34” – 0023’05” LS dan 117019’40” – 117025’32” BT. Secara administrasi pemerintahan berada di dalam 2 kecamatan, yaitu: Kecamatan Anggana dan Kecamatan Muara Badak, Kab. Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Memperhatikan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.674/Menhut-II/2011 tanggal 1 Desember 2011 tentang Penetapan Wilayah KPHL dan KPHP di Propinsi Kalimantan Timur, maka Kawasan HPP Barat Muara Kaeli termasuk di dalam wilayah kerja KPHP Delta Mahakam.

Berdasarkan Berita Acara Tata Batas Luar Definitif HPP Barat Muara Kaeli tanggal 25 Nopember 2000 dan Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor SK. 66/Menhut-II/2012 tanggal 3 Pebruari 2012, maka Kawasan Hutan Pendidikan dan Penelitian Barat Muara Kaeli yang terletak di Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur ditetapkan seluas 8.850,70 (Delapan Ribu Delapan Ratus Lima Puluh dan Tujuh Puluh Perseratus) hektar.

 

  1. Aksesibilitas

Aksesibilitas menuju kawasan ini relatif mudah, dapat ditempuh melalui 2 jalur darat,   yaitu:

  1. Jalur Samarinda – Anggana – Muara Kaeli ditempuh dalam waktu ± 1,5 jam.
  2. Jalur Samarinda – Muara Badak – Muara Kaeli dalam waktu ± 2 jam.

 

  1. Sejarah Kawasan

Sejarah kawasan HPP Barat Muara Kaeli tidak terlepas dari kawasan Delta Mahakam. Studi yang telah dilakukan CIRAD (2002) mencatat hingga permulaan abad ke-20, di wilayah delta hutan bakau tidak ada pemukiman manusia. Wilayah pemukiman manusia pada awalnya antara hutan bakau di daerah pesisir dengan pegunungan. Di daerah tersebut para perintis menanam padi, mengembangkan perkebunan kelapa semak, lada dan memelihara ikan. Pada wilayah hutan bakau, jauh dari daerah pegunungan, hanya terdapat pemukiman kecil dan tersebar dengan komposisi nelayan yang berasal dari Bajo dan Bugis yang beroperasi di sungai-sungai di dalam delta Mahakam.

Selain menangkap ikan, nelayan tersebut juga membuka perkebunan kelapa semak dan rotan. Pola sistem perekonomian masih merupakan ekonomi subsisten. Hasil udang dan ikan selain ditukar (barter) secara terbatas dengan pakaian, beras, sebagian dikonsumsi sendiri. Para nelayan menangkap ikan dengan menggunakan perahu dayung dari kayu yang dibuat sendiri dengan alat tangkap manual seperti pancing dan jaring soro. Wilayah pertanian kelapa dan wilayah tangkap, tidak terbatas; namun sepanjang kemampuan dari warga untuk memanfaatkannya.

Kawasan HPP Barat Muara Kaeli merupakan bagian dari Delta Mahakam. Kawasan ini telah ditata batas luar sementara sesuai Berita Acara Tata Batas Luar Sementara pada tanggal 12 Oktober 2000. Selanjutnya sesuai Berita Acara tanggal 25 Nopember 2000, telah dilakukan tata batas luar definitif HPP Barat Muara Kaeli.

Selama kurun waktu 11 tahun sejak kawasan HPP Barat Muara Kaeli ditata batas definitif, kawasan ini seperti kawasan “tak bertuan”. Seiring dengan meningkatnya pengawasan terhadap fungsi hutan, untuk mengelola wilayah Delta Mahakam, pada tahun 2011 ditetapkan KPHP Delta Mahakam oleh Menteri Kehutanan melalui SK No SK.674/MENHUT-II/2011 tanggal 1 Desember 2011 tentang Penetapan Wilayah KPHL dan KPHP di Propinsi Kalimantan Timur. Kawasan HPP Barat Muara Kaeli merupakan bagian wilayah tertentu dalam KPHP Delta Mahakam.

Fungsi HPP Barat Muara Kaeli dahulunya merupakan hutan produksi yang bisa dikonversi, yaitu berdasarkan TGHK 1983 (SK. Mentan No. 24/kpts/UM/1983), kemudian dengan adanya RTRWP Propinsi Kalimantan Timur 1999 (SK. Gubernur Propinsi Kalimantan Timur No. 050/K.443/1999) berubah menjadi hutan produksi. Selanjutnya dengan Penunjukkan Kawasan Hutan dan Perairan (SK. Menhut                         No. 79/kpts-II/2001), kawasan tersebut ditetapkan menjadi hutan pendidikan dan penelitian dengan fungsi pokok tetap sebagai hutan produksi.

Sebagai bagian dari upaya pemantapan kawasan, pada tanggal 3 Pebruari 2012, Menteri Kehutanan telah menetapkan kawasan HPP Barat Muara Kaeli 8.850,70 ha melalui surat Nomor: SK.66/Menhut-II/2012 dan menunjuk Badan Litbang Kehutanan sebagai penanggung jawab pengelolaan. Guna kelancaran dan ketertiban pengelolaan HPP Barat Muara Kaeli, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan melalui surat nomor : SK.34/VIII-SET/2014 tanggal 31 Desember 2014, menunjuk Balai Besar Penelitian Dipterokarpa sebagai penanggung jawab pengelolaan kawasan tersebut.

 

  1. Potensi Kawasan
  • Struktur dan Komposisi Tegakan

     Hutan Pendidikan dan Penelitian Barat Muara Kaeli berdasarkan survei memiliki tiga formasi hutan, yakni hutan dataran rendah, hutan kerangas dan hutan rawa.

  • Fauna

Hutan mangrove Delta Mahakam secara alami merupakan habitat penyebaran satwa liar (mamalia dan burung), termasuk bekantan sebagai satwa Pulau Kalimantan. Ruang gerak habitat satwa liar ini terus mengalami penurunan akibat meningkatnya konversi hutan mangrove untuk pencetakan tambak-tambak baru. Habitat utama bekantan (Nasalis larvatus) ini adalah hutan mangrove yang ditumbuhi pidada (Sonneratia alba), karena binatang tersebut memakan daun/ bunga dan buah pidada. Berdasarkan hasil kajian PKSPL IPB (2001 dan observasi di lapangan (Juli – September 2002) diperoleh keanekaragaman satwa liar sebanyak 5 jenis mamalia dan 24 jenis burung yang menghuni kawasan hutan mangrove Delta Mahakam. Diantara satwa liar yang tergolong satwa dilindungi karena kelangkaan, keaslian (endemik) dan populasinya terancam punah adalah Bekantan (Nasalis larvatus); burung raja udang (Halcyon chloris); Elang (accipiter trivirgatus); Elang bondol (Haliastur indus); Sikatan (Rhipidura javanica) dan burung madu (Nectarina sp). Data lapangan terbaru menambahkan bahwa di HPP Barat Muara Kaeli ditemukan pula Orangutan (Pongo pygmaeus) yang banyak pula disaksikan oleh masyarakat setempat di sekitar tipe Hutan Dataran Rendah, dimana dewasa ini telah banyak dikonversi menjadi Perkebunan, baik Kelapa Sawit maupun Karet. Adapun secara rinci satwa liar yang dilindungi berikut lokasi penyebarannya di Delta Mahakam termasuk pula HPP Barat Muara Kaeli.

  • Topografi

Terdapat 4 (lima) kelas kemiringan lahan (slope) pada areal studi, yaitu lahan yang mempunyai kelas kemiringan lahan sebesar 0 – 2 %, lahan yang mempunyai kelas kemiringan lahan sekitar 2 – 8 %, lahan yang mempunyai kelas kemiringan lahan sekitar 16 -25 % dan lahan yang mempunyai mempunyai kelas kemiringan lahan sekitar 41- 60 %.

 

  1. Kegiatan Penelitian

Sejak diserahkan pengelolaan HPP Barat Muara Kalei pada akhir tahun 2014 keegiatan penelitian masih relatif sedikit yakni hanya 2 judul kegiatan saja yaitu kegiatan penelitian model konservasi ekosistem mangrove dan konflik kebijakan kegiatan pengelolaan HPP Barat Muara kaeli. Kegiatan penelitian di kawasan ini tidak hanya dilaksanakan oleh B2P2EHD, melainkan juga Puslitbang Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan serta Perubahan Iklim, lembaga pendidikan, lembaga penelitian, maupun pemerhati lingkungan. Tema penelitian berupa: pembuatan plot sample permanen (PSP) untuk pengukuran karbon, resolusi konflik, rehabilitasi.

 

  1. Kegiatan Lainnya

Di dalam kawasan HPP Barat Muara Kaeli terdapat Pusat Informasi Mangrove (PIM) yang merupakan hasil kerjasama antara Balai Besar Litbang Ekosistem Hutan Dipterokarpa dengan Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Timur. Selain itu juga terdapat demplot agrosilvofishery untuk memberikan contoh pengelolaan tambak ramah lingkungan di Delta Mahakam.